FK-KMK UGM. Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan terapi Sujok sebagai bagian dari implementasi pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan pendekatan nonfarmakologis dalam penanganan keluhan kesehatan, khususnya nyeri, dengan memanfaatkan teknik stimulasi titik-titik tertentu pada tangan dan kaki yang merepresentasikan organ tubuh.
Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 15 April 2026 di Puskesmas Kotagede I, Kota Yogyakarta. Pelaksanaan dibagi dalam dua shift, yaitu pukul 08.00–09.00 WIB dan pukul 09.00–11.30 WIB, dengan melibatkan 24 mahasiswa yang mengikuti mata kuliah elektif PLPS Program Magang Terapi Sujok. Kegiatan ini menjangkau sekitar 80 peserta dari masyarakat dan berlangsung secara terintegrasi dengan layanan kesehatan lain seperti pemeriksaan kesehatan umum.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa didampingi oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D., Purwanta, S.Kp., M.Kes., dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas, serta Janatin Hastuti, S.Si., M.Kes., Ph.D., dari Departemen Gizi Kesehatan. Pendampingan ini memastikan bahwa pelayanan yang diberikan tetap berada dalam koridor ilmiah dan praktik keperawatan yang aman.
Terapi Sujok menjadi salah satu layanan yang paling diminati masyarakat. Sebagian besar peserta datang dengan keluhan nyeri muskuloskeletal seperti nyeri lutut, punggung, dan kaki, gangguan saraf seperti kesemutan dan kebas, hingga keluhan psikosomatis seperti kecemasan, sulit tidur, dan jantung berdebar. Salah satu kasus yang menonjol adalah seorang pasien dengan keluhan nyeri hebat pada kaki kanan selama satu minggu yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dengan skala nyeri awal mencapai 10.
Setelah dilakukan intervensi terapi Sujok melalui stimulasi titik yang relevan selama kurang lebih 15 menit, pasien melaporkan penurunan nyeri secara signifikan hingga tidak lagi dirasakan. Pasien menggambarkan sensasi selama terapi sebagai rasa hangat dan seperti aliran listrik ringan yang diikuti dengan berkurangnya nyeri. Hasil ini menunjukkan potensi terapi Sujok sebagai pendekatan komplementer dalam membantu mengatasi nyeri secara cepat, meskipun tetap harus diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti terapi medis utama.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan pendekatan terapi komplementer yang aman dan efektif. SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dari pemanfaatan inovasi terapi nonfarmakologis dalam pelayanan kesehatan. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan terlihat melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan manfaat bagi masyarakat. (Kontributor: Syifa Nuur Ardiyani, Tika Puspitasari, Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., PhD.)



