FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada meluluskan mahasiswa Program Studi Doktor, dr. Meirizal, Sp.OT., Subsp.T.L.B.M(K) dengan predikat Cumlaude sebagai Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Dalam ujian terbuka di Auditorium FK-KMK UGM pada Kamis, (09/04). dr. Meirizal memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Perawatan Luka yang Ekonomis dan Efektif sebagai Proses Persiapan Cangkok Kulit Bedah Lanjut dengan Menggunakan Inovasi Reverse Aqua Pump-Vacuum Assisted Closure”.
Vacuum Assisted Closure (VAC) dikenal sebagai metode efektif dalam mempercepat penyembuhan luka melalui mekanisme tekanan negatif yang merangsang pembentukan jaringan granulasi. Namun, tingginya biaya alat dan perawatan membuat penggunaannya belum optimal di berbagai fasilitas kesehatan. RAP-VAC dikembangkan sebagai inovasi berbasis prinsip yang sama, tetapi dengan pendekatan teknologi yang lebih sederhana dan ekonomis tanpa mengurangi efektivitas klinisnya.
Penelitian ini melibatkan 24 subjek yang dibagi secara acak ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok intervensi yang menggunakan RAP-VAC dan kelompok kontrol yang menggunakan VAC komersial. Analisis dilakukan untuk membandingkan efektivitas penyembuhan luka, durasi penggunaan alat, tingkat infeksi, kenyamanan pasien, serta aspek biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dalam derajat pembentukan jaringan granulasi antara kedua kelompok sejak awal hingga akhir perawatan. Durasi penggunaan alat juga relatif sama, menunjukkan bahwa RAP-VAC memiliki performa klinis yang setara dengan VAC komersial.
Dari sisi infeksi, indikator C-reactive protein (CRP) menunjukkan penurunan yang signifikan pada kelompok RAP-VAC, menandakan adanya perbaikan kondisi luka yang optimal. Selain itu, tingkat kenyamanan pasien yang diukur melalui skala nyeri, respons klinis, dan kebisingan alat tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Hal ini memperkuat bahwa penggunaan RAP-VAC tidak menurunkan kualitas pengalaman pasien selama terapi.
“Perawatan luka dengan menggunakan VAC, walaupun lebih cepat dibanding perawatan secara konvensional menggunakan NaCl fisiologis 0,89%, dia tidak pernah di bawah satu minggu. Perawatan luka menggunakan VAC kisaran 28-40 hari. Poin kedua, sepengalaman saya, yang paling gampang mengidentifikasi dalam penggunaan mesin VAC adalah kebisingan alat,” kata dr. Meirizal.
Keunggulan utama RAP-VAC terletak pada efisiensi biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan VAC komersial. Analisis Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) menunjukkan nilai negatif, yang berarti RAP-VAC tidak hanya setara secara klinis tetapi juga lebih unggul dari sisi cost-effectiveness. Temuan ini menjadi penting dalam konteks sistem kesehatan di negara berkembang yang membutuhkan inovasi teknologi tepat guna dan berkelanjutan.
Penelitian yang dilakukan oleh dr. Meirizal ini menyimpulkan bahwa RAP-VAC merupakan inovasi yang efektif dan efisien sebagai alternatif VAC komersial dalam penyembuhan luka. Dengan efektivitas klinis yang setara dan biaya yang jauh lebih rendah, RAP-VAC berpotensi meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat luas serta mendukung implementasi teknologi kesehatan yang inklusif.
“Penelitian yang kami lakukan ini sifatnya lokal yang lakukan di FK-KMK UGM, saya ingin penelitian ini multidisiplin, sehingga saya bisa mengevaluasi di berbagai pusat pendidikan. Selain itu, saya ingin menekan biaya VAC lebih murah lagi dengan tanpa mengesampingkan kualitas hasinya,” terang dr. Meirizal.
Kegiatan ujian terbuka yang dilaksanakan oleh Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM ini selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan adanya pembelajaran dan penelitian dalam pelaksanaannya, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi kesehatan yang inovatif dan terjangkau, serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dengan menghadirkan solusi medis yang lebih inklusif bagi masyarakat di berbagai lapisan sosial. (Humas/Sitam).



