FK-KMK UGM. Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada mengikuti pertukaran pelajar di Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda. Program ini diikuti oleh Belvia Adelaida Maia Tianty, mahasiswa Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM, yang mengambil minor The Moving Body sebagai bagian dari pengayaan akademik di bidang ilmu gerak, aktivitas fisik, dan rehabilitasi. Kegiatan ini dilaksanakan dalam periode program akademik semester berjalan di Amsterdam, Belanda.
Selama mengikuti minor tersebut, Belvia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan akademik yang komprehensif, meliputi perkuliahan interaktif, praktikum laboratorium, analisis kasus klinis, hingga penyusunan proposal penelitian. Proses pembelajaran dirancang untuk mengintegrasikan landasan teori dengan pendekatan evidence-based practice yang diterapkan dalam kedokteran olahraga dan rehabilitasi. Melalui pengalaman ini, ia semakin terlatih dalam berpikir kritis, melakukan penalaran klinis secara sistematis, serta mengambil keputusan akademik berbasis data ilmiah.
Kegiatan seperti critical reading and writing, interpretasi data analisis gerak, serta diskusi kasus multidisipliner turut memperkaya kemampuan analitisnya. Mahasiswa dilatih untuk mengidentifikasi problem klinis secara komprehensif, mempertimbangkan determinan biologis dan fungsional, serta merumuskan solusi yang aplikatif dalam praktik pelayanan kesehatan. Lingkungan pembelajaran yang multikultural juga mendorong peningkatan kapasitas komunikasi profesional, termasuk dalam presentasi ilmiah, kerja kelompok lintas disiplin, dan ujian esai berbahasa Inggris.
Interaksi dengan dosen dan mahasiswa internasional memberikan pengalaman adaptasi yang signifikan. Perbedaan latar belakang budaya dan perspektif akademik menjadi ruang pembelajaran yang memperdalam pemahaman mengenai pendekatan rehabilitasi yang bersifat individual dan kontekstual. Selain itu, proses penyusunan proposal penelitian dalam minor The Moving Body mendorong pengembangan kreativitas ilmiah, mulai dari perumusan pertanyaan riset, pemilihan desain metodologi, hingga perencanaan luaran yang relevan bagi praktik klinis.
Pengalaman ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi tim dalam bidang kesehatan. Tugas kelompok dan diskusi interdisipliner memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan yang optimal membutuhkan koordinasi dan sinergi berbagai profesi untuk mencapai hasil yang komprehensif dan berorientasi pada pasien.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui akses pembelajaran internasional dan peningkatan kompetensi berbasis standar global. Selain itu juga SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademik lintas negara yang memperkuat jejaring institusi pendidikan tinggi. (Agustina Latifah Hanum SPsi).




