Magang di Rumah Sakit Mata Dr. YAP Perkuat Kompetensi Klinis Mahasiswa Kedokteran FK-KMK UGM

FK-KMK UGM. Program Studi Kedokteran memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pengalaman klinis melalui kegiatan magang di Rumah Sakit Mata “Dr. YAP” Yogyakarta. Kegiatan yang diikuti Tukhifa Fauziah Ramadhani tersebut berlangsung pada November hingga Desember 2025 untuk mengenal secara langsung penyelenggaraan pelayanan kesehatan mata sekaligus menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan praktik klinis di rumah sakit.

Selama magang, Tukhifa mengikuti rangkaian kegiatan secara terstruktur di bawah supervisi dokter pembimbing dan tim medis. Pengalaman tersebut mencakup observasi pelayanan di poliklinik JKN, kegiatan di kamar operasi, visit bangsal, diskusi dengan staf medis, serta belajar mandiri. Setiap kegiatan memberikan sudut pandang berbeda mengenai bagaimana pelayanan kesehatan mata dilaksanakan sekaligus bagaimana seorang dokter bekerja dalam sebuah sistem pelayanan.

Pengalaman pertama diperoleh melalui observasi di poli JKN. Mahasiswa mengikuti alur pelayanan pasien mulai dari registrasi, anamnesis, pemeriksaan fisik, penegakan diagnosis, hingga penyusunan rencana terapi. Dari proses tersebut, mahasiswa dapat melihat pentingnya pembagian peran antara tenaga medis dan tenaga administrasi serta koordinasi antarpihak agar pelayanan tetap berjalan dengan baik, terutama ketika menghadapi jumlah kunjungan pasien yang tinggi.

Interaksi dengan dokter dan staf medis juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Mahasiswa mendapatkan gambaran mengenai pentingnya komunikasi yang empatik, terutama ketika memberikan pelayanan kepada pasien lanjut usia dan pasien dengan keterbatasan penglihatan. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan klinis perlu berjalan beriringan dengan kemampuan komunikasi.

Selain poliklinik, mahasiswa memperoleh kesempatan mengamati kegiatan di kamar operasi. Beberapa prosedur pembedahan mata, termasuk operasi katarak dan pterigium, menjadi bagian dari pembelajaran sesuai kasus yang ditemui selama rotasi. Mahasiswa mengamati tahapan praoperasi, penerapan prinsip sterilisasi alat dan ruangan, koordinasi tim bedah, serta penerapan keselamatan pasien selama tindakan.

Pengamatan di kamar operasi memberikan pemahaman mengenai pentingnya kerja sama multidisiplin dalam pelayanan. Dokter operator, asisten bedah, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya memiliki peran yang saling berkaitan. Melalui arahan supervisor, mahasiswa memahami bahwa tindakan bedah membutuhkan ketelitian, koordinasi, serta kepatuhan terhadap prosedur agar keselamatan dan kualitas pelayanan tetap terjaga.

Dalam kegiatan visit, mahasiswa juga belajar mengenai komunikasi terapeutik dan kolaborasi antara dokter, perawat, pasien, serta keluarga. Keberadaan penyakit penyerta, seperti diabetes melitus dan hipertensi, turut menunjukkan pentingnya melihat pasien secara menyeluruh. Penanganan masalah kesehatan mata tetap perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Selama pelaksanaan magang, mahasiswa juga menghadapi proses adaptasi terhadap terminologi medis, sistem kerja rumah sakit, dan alur pelayanan khusus mata. Perbedaan antara pembelajaran teoritis dengan penerapan di lingkungan klinis menjadi pengalaman yang mendorong mahasiswa untuk lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan mencari referensi secara mandiri.

Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kompetensi calon tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang bermutu. SDG 4: Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui pembelajaran klinis yang menghubungkan teori dengan pengalaman langsung di fasilitas pelayanan kesehatan. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin melalui keterhubungan antara institusi pendidikan kedokteran dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa. (Kontributor: Agustina Latifah Hanum, S.Psi).