Lima tenaga kesehatan dari Puskesmas dan akademisi resmi mendapatkan sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai Terapis Sujok pada bulan September 2025. Capaian ini merupakan hasil dari program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) yang didanai hibah Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) FK-KMK UGM. Program ini menjadi bagian dari komitmen kampus untuk memperkuat layanan kesehatan primer di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Program dipimpin oleh Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., MN.Sc., Ph.D. dan Purwanta, S.Kp., M.Kes., yang berkolaborasi dengan berbagai Puskesmas mitra di Yogyakarta. Para peserta dinyatakan kompeten setelah melalui serangkaian proses yang meliputi sosialisasi program, pelatihan dasar dan lanjutan, praktik lapangan, serta uji kompetensi resmi oleh asesor BNSP. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa S1 dan Magister Keperawatan FK-KMK UGM, sebagai bagian dari integrasi pembelajaran dan pengabdian masyarakat.
Pelatihan berfokus pada terapi Sujok, sebuah metode komplementer non-invasif yang menstimulasi titik-titik refleksi di tangan dan kaki untuk membantu meredakan nyeri secara alami. Terapi ini dinilai efektif, mudah dipelajari, serta dapat diaplikasikan di layanan kesehatan primer dengan biaya yang relatif terjangkau. Dengan adanya tenaga kesehatan yang tersertifikasi, terapi Sujok diharapkan dapat terintegrasi lebih luas dalam sistem pelayanan kesehatan.
Menurut Prof. Intansari Nurjannah, keberhasilan ini merupakan langkah penting dalam pengembangan layanan kesehatan alternatif di tingkat komunitas. “Dengan adanya sertifikasi resmi dari BNSP, tenaga kesehatan kini memiliki keahlian yang terstandar dan legitimasi untuk mengintegrasikan terapi Sujok dalam pelayanan kesehatan primer. Ini adalah upaya nyata menghadirkan pelayanan yang lebih holistik bagi masyarakat,” ungkapnya.
Senada, Purwanta, SKp., M.Kes menegaskan bahwa program ini juga menjadi jembatan antara dunia akademik dan praktik di lapangan. “Kami ingin memastikan bahwa tenaga kesehatan memiliki keterampilan yang tidak hanya teruji, tetapi juga diakui secara profesional. Harapannya, ke depan lebih banyak Puskesmas di DIY yang mampu menyediakan layanan Sujok sebagai bagian dari manajemen nyeri non-farmakologis,” jelasnya.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Puskesmas Sewon dan Depok, Kabupaten Bantul, dengan dukungan penuh tim pengabmas dari Departemen Keperawatan FK-KMK UGM. Selain meningkatkan kapasitas individu, kegiatan ini juga memberi kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan primer di wilayah DIY. Dengan hadirnya tenaga kesehatan bersertifikat BNSP, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengatasi keluhan nyeri maupun gangguan kesehatan ringan secara alami.
UGM melalui hibah PSIK berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi dalam pengabdian kepada masyarakat. Langkah ini sejalan dengan visi kampus untuk mendukung layanan kesehatan yang komprehensif, holistik, dan berkelanjutan. Ke depan, diharapkan semakin banyak tenaga kesehatan yang dapat memperoleh sertifikasi serupa, sehingga layanan komplementer seperti Sujok dapat lebih merata di fasilitas kesehatan primer. Pengabdian ini turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Kontributor: Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD).



