Masa kini isu penting di masyarakat salah satunya adalah kesehatan mental. Orang yang tampak sehat secara fisik, ternyata menyimpan beban batin, kecemasan, hingga depresi yang tidak terlihat. Agama Islam adalah solusi yang sempurna, ada panduan yang lengkap tentang bagaimana menjaga jiwa (hifz an-nafs) dalam bingkai ibadah dan kehidupan sehari-hari. Ilmu kedokteran dan psikologi modern menyatakan bahwa kesehatan mental dipengaruhi faktor biologis, lingkungan, perilaku, dan kondisi sosial budaya, ekonomi, politik, dll. Naskah ini menyajikan perspektif Islam dengan pendekatan medis–psikologis, agar umat Muslim dapat memahami kesehatan mental secara utuh, praktis, dan sesuai ajaran syariat.
Islam menempatkan kesehatan mental sebagai bagian dari penjagaan jiwa Allah Subhaanahu wa ta’ala menegaskan: Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia memelihara kehidupan seluruh manusia (QS. Al-Mā‘idah: 32)
I. Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental dalam Islam
Ayat di atas menunjukkan nilai kehidupan manusia secara utuh baik fisik maupun psikis. Jiwa yang sakit dapat membuat seseorang tidak mampu beribadah optimal, tidak produktif, dan kehilangan makna hidup. Rasulullah ﷺ juga bersabda: Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka seluruh tubuh baik; jika ia rusak maka seluruh tubuh rusak. Ketahuilah, itulah hati (HR. Bukhari Muslim). Hati dalam konteks hadis mencakup aspek spiritual, emosional, dan moral. Kesehatan mental yang terganggu dapat memengaruhi perilaku, motivasi, dan hubungan seseorang dengan Allah dan manusia.
Islam mendorong kedamaian dan keseimbangan jiwa: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (QS. Ar-Ra’d: 28). Artinya, kesehatan mental bukan sekadar bebas dari gangguan, tetapi mencapai ketenangan (thuma’ninah) melalui iman, ibadah, dan akhlak mulia.
II. Tinjauan Medis dan Psikologis Mengenai Kesehatan Mental
Dalam perspektif medis dan psikologis, kesehatan mental mencakup kesejahteraan emosional, kemampuan berpikir jernih, pengendalian diri, kemampuan berelasi, dan produktivitas. World Health Organization (WHO) menyatakan gangguan mental dipengaruhi oleh: 1) Faktor biologis: ketidak seimbangan neurotransmiter, hormon, genetic, 2) Faktor psikologis: pengalaman masa kecil, trauma, pola pikir, 3) Faktor sosial: lingkungan, pekerjaan, ekonomi, relasi sosial, 4) Faktor spiritual: makna hidup, nilai-nilai, keyakinan.
Fenomena gangguan kecemasan dan depresi meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Beban ekonomi, tekanan kerja, perubahan kehidupan sosial, dan kurangnya waktu ibadah dapat memperburuk kesehatan mental. Beberapa tanda gangguan mental menurut psikologi modern: mudah cemas, gelisah, atau panik; gangguan tidur; kehilangan minat; merasa tidak berharga; mudah marah., sulit Konsentrasi; menarik diri dari lingkungan; pikiran negatif berulang. Jika tidak ditangani, dalam psikosomatik kondisi ini dapat menyebabkan penyakit fisik seperti hipertensi, penyakit jantung, sakit kepala kronis, dan gangguan pencernaan.
III. Integrasi Islam dengan Pendekatan Medis-Psikologis
Dalam psikologi positif, ketenangan batin sangat penting bagi resilien (daya tahan). Islam mengajarkan konsep sakinah, ketenangan yang lahir dari kedekatan dengan Allah. “Dialah yang menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin (QS. Al-Fath: 4)
1). Konsep Sakinah dan Tawakkal. Tawakkal: berserah diri setelah berusaha, dianggap sejalan dengan coping stress yang sehat dalam psikologi.
2). Ibadah sebagai Terapi Spiritual. Shalat, dzikir, tilawah, dan doa menurunkan hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan hormon endorfin. Banyak riset misalnya (Koenig, 2012) dalam menunjukkan bahwa ibadah rutin meningkatkan stabilitas emosi, kontrol diri, dan kesehatan psikologis.
3). Konseling dan Curhat Sehat. Rasulullah ﷺ memberi teladan bahwa curhat atau berkonsultasi adalah hal yang dianjurkan. Hadis: Tidaklah seorang hamba diuji kecuali Allah memberikan jalan keluar baginya (HR. Tirmidzi). Sesi konseling modern baik dengan psikolog atau psikiater sejalan dengan prinsip syura (musyawarah), saling menasihati, dan mencari solusi dengan ahli. Islam mendorong kita untuk bertanya kepada orang yang lebih tahu: Maka bertanyalah kepada ahlinya jika kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahl: 43). Ini menjadi landasan syar’i untuk konseling profesional.
4). Obat dan Terapi Medis
Penggunaan obat antidepresan, antiansietas, atau terapi hormonal tidak bertentangan dengan syariat, selama sesuai indikasi medis. Rasulullah ﷺ bersabda: “Berobatlah kalian, karena setiap penyakit ada obatnya (HR. Abu Daud).
5). Menjaga Keseimbangan Hidup
Kesehatan mental berkaitan dengan gaya hidup: Tidur cukup; Aktivitas fisik; Nutrisi seimbang; Interaksi sosial; Mengelola waktu. Rasulullah ﷺ mencontohkan hidup seimbang dalam ibadah, pekerjaan, keluarga, dan istirahat. Ketidakseimbangan dapat memicu gangguan mental.
IV. Dimensi Ekonomis dan Pengaruhnya pada Kesehatan Mental
Kondisi ekonomi sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang. Tekanan keuangan dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan konflik keluarga. Dalam kajian medis, financial stress adalah salah satu prediktor kuat gangguan mental. Dalam Islam, kecukupan ekonomi merupakan bagian dari maqāṣid asy-syarī’ah: menjaga akal, jiwa, dan harta.
Nabi ﷺ berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan, kesedihan, dan beban hutang (HR. Nasa’i). Hutang yang menumpuk atau ekonomi yang tidak stabil dapat menjadi beban mental. Karena itu Islam mendorong: Hidup sederhana; Menghindari boros (israf); Mencari nafkah halal; Mengatur keuangan secara bijak; Menjaga amanah dan kejujuran
Penting dicatat bahwa tidak semua gangguan mental berasal dari faktor ekonomi. Banyak orang dengan keadaan ekonomi baik tetapi mengalami kegelisahan atau depresi karena faktor lain. Islam menegaskan bahwa rezeki dijamin oleh Allah, namun tetap harus diikhtiarkan dengan usaha:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
V. Praktik–Praktik Islami yang Mendukung Kesehatan Mental
- Syukur, terbukti secara psikologis meningkatkan kebahagiaan dan menurunkan gejala depresi.
Dalam QS. Ibrahim: 7: “Jika kalian bersyukur, Aku akan menambah (nikmat) kalian”. Syukur dapat dilakukan melalui dzikir, jurnal syukur, atau menyebutkan nikmat kecil setiap hari. - Sabar, dalam psikologi modern, sabar sejalan dengan kemampuan mengelola impuls dan stres (self-regulation). Firman Allah: Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153)
- Silaturahim dan Komunitas, hubungan sosial penting untuk kesehatan mental. Orang yang dekat dengan keluarga/komunitas lebih terlindungi dari depresi. Islam memberi perhatian besar pada ukhuwah, sabda Nabi Muhammad: Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan (HR. Bukhari Muslim)
- Doa, adalah terapi emosional yang menghubungkan harapan seseorang dengan sumber kekuatan tertinggi. Satu doa ketenangan hati: Ya Allah, janganlah Engkau pikulkan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau pikulkan kepada orang-orang sebelum kami (QS. Al-Baqarah: 286)
Semoga ALLAH Subhaanahu Wa Ta ‘ala menjadikan kita semua (seluruh sivitas akademika Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, beserta keluarga dan anak turun dan sivitas hospitalia Rumah Sakit, serta dinas, lembaga jejaring sehat yang utuh. Memang ibadah menenangkan jiwa, psikologi menata pikiran dan emosi, medis membantu bila ada gangguan biologis, ekonomi yang stabil membantu ketenangan hidup. Mudah-mudahan Allah Sunhaanahu Wa Ta’ala menganugerahi rasa indah dan menyenangkan dalam melaksanakan seluruh ajaran agama Islam. Amin. (Editor: Supriyati. Kontributor: Dr. dr. Probosuseno, SpPD, KGer, FINASIM , SE, MM, AIFO-K —saat ini staf di Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK KMK UGM/ Ketua KSM & kepala Klinik Geriatri RSUP Dr. Sardjito, Ketua Binrohis KORPRI RSUP Dr Sardjito dan Ketua Takmir masjid Asy Syifa’ RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Konsultan)