Keperawatan Kanker yang Bermartabat: Lebih dari Merawat, Menghidupkan Harapan

Di balik setiap pasien kanker yang berjuang melawan rasa sakit dan ketidakpastian, hadir para perawat yang bekerja dengan ketenangan, ketekunan, dan ketulusan hati. Salah satu figur yang terus menguatkan nilai-nilai tersebut adalah Ibu Martina Sinta, dosen Keperawatan FK-KMK UGM yang mendedikasikan diri untuk mengembangkan keperawatan kanker yang bermartabat. Baginya, merawat pasien bukan sekadar tindakan medis, tetapi juga upaya menghidupkan harapan, namun sebuah proses yang menyatukan aspek klinis, emosional, dan spiritual.

Merawat yang Menjaga Martabat Manusia

Bagi Ibu Martina Sinta, konsep keperawatan bermartabat menjadi dasar dalam setiap interaksi dengan pasien kanker. Ia menekankan bahwa setiap individu yang sedang menjalani pengobatan kanker tidak hanya membutuhkan terapi medis, tetapi juga penghargaan atas martabatnya sebagai manusia yang sedang menghadapi masa-masa paling rentan dalam hidupnya.

Dalam pandangan beliau, “perawatan yang bermartabat adalah perawatan yang melihat pasien sebagai pribadi yang utuh, bukan hanya kondisi penyakitnya.” Itulah sebabnya, aspek emosional dan spiritual selalu ia hadirkan sebagai bagian integral dalam pendampingan pasien.

Perawat, menurutnya, punya peran unik yaitu menjadi penyampai ketenangan, penjaga harapan, sekaligus pendamping yang mampu mengerti bahasa tubuh dan emosi pasien di saat kata-kata tak lagi cukup.

Dukungan Emosional dan Spiritual yang Menguatkan

Ibu Martina Sinta percaya bahwa dukungan emosional dan spiritual memiliki pengaruh besar terhadap proses penyembuhan. Ketika pasien menghadapi rasa takut, cemas, atau kebingungan, perawat adalah figur yang paling dekat dan paling sering berada di sisi mereka. “Perawatan tidak semata teknis. Ia adalah perjalanan batin.” Begitulah beliau menggambarkan tugas seorang perawat.

Dengan menghadirkan empati, ketulusan, dan keterhubungan spiritual yang hangat, seorang perawat dapat membantu pasien menemukan kembali keberanian, ketenangan, dan daya juang yang mungkin sempat hilang.

Tantangan: Kurangnya Pengetahuan dan Stigma Masyarakat

Dalam praktik sehari-hari, Ibu Martina Sinta tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang menghambat kualitas pelayanan keperawatan di Indonesia. Salah satunya adalah minimnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit kanker, baik mengenai tanda awal, proses perawatan, maupun manfaat deteksi dini.

Lebih jauh lagi, stigma mengenai kanker juga kerap menghambat pasien untuk mencari bantuan lebih cepat. Ada yang takut, malu, atau bahkan memilih jalur pengobatan yang tidak tepat karena tekanan lingkungan dan informasi yang keliru.

Kondisi ini, menurutnya, sering kali “memperlambat alur perawatan” dan membuat pasien datang pada fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah berada pada tahap yang lebih berat.

Basic Care: Cleaning, Communicating, Caring

Untuk membangun fondasi keperawatan kanker yang kuat, Ibu Martina Sinta menegaskan pentingnya kembali ke basic care. Menurutnya, sebelum membahas teknik-teknik perawatan yang kompleks, seorang perawat harus memiliki dasar pelayanan yang bersih dan humanis. Tiga hal yang ia tekankan adalah: 1). Cleaning, yakni memastikan lingkungan dan prosedur perawatan senantiasa higienis dan aman. 2). Communicating yakni menghadirkan komunikasi yang jujur, empatik, dan menenangkan. Dan 3). Caring yang menunjukkan kepedulian yang tulus, bukan sekadar menjalankan tugas teknis.

Bagi beliau, fondasi ini harus tertanam kuat sebelum perawat melangkah ke ranah intervensi klinis lanjutan.

Edukasi Kader TATAK: Tangguh dan Tanggap Kanker

Sebagai bentuk tanggung jawab akademik dan pengabdian masyarakat, Ibu Martina Sinta menginisiasi edukasi kepada kader TATAK (Tangguh dan Tanggap Kanker). Program ini menjadi proyek kolaboratif dan pilot project yang bertujuan membekali masyarakat dengan pengetahuan dasar tentang kanker, sehingga dapat mengenali gejala awal, memahami pentingnya rujukan cepat, dan memberikan dukungan dasar kepada pasien di lingkungannya.

Melalui program ini, ia membangun jembatan antara ilmu keperawatan dan kebutuhan nyata masyarakat. Dengan memperkuat kapasitas kader, ia berharap perawatan kanker tidak hanya terpusat di klinik atau rumah sakit, tetapi juga hadir di level keluarga dan komunitas.

Inisiatif TATAK menjadi refleksi keyakinan beliau bahwa penanganan kanker adalah kerja bersama, kerja berjejaring, kolaborasi, dan kepedulian lintas sektor.

Menghidupkan Harapan: Misi Besar dalam Setiap Perawatan

Bagi Ibu Martina Sinta, tujuan tertinggi dalam keperawatan kanker adalah menghidupkan harapan. Harapan yang membuat pasien merasa tidak sendirian, harapan yang menguatkan keluarga, dan harapan yang menciptakan ruang bagi kesembuhan atau setidaknya kualitas hidup yang lebih baik.

Ia percaya bahwa harapan bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan: pendampingan, dialog, sentuhan kemanusiaan, dan pelayanan yang bersumber dari hati.

Inilah yang membuatnya menjadi figur penting dalam pengembangan keperawatan kanker di FK-KMK UGM sebagai dosen, pendamping, pendidik, dan pejuang kemanusiaan yang terus menyinari jalan bagi mereka yang tengah berjuang melawan kanker. (Penulis: Maniso. Editor: Sri Awalia Febriana)