Kenali Autisme Sejak Dini

FK-KMK UGM. Kecenderungan angka kejadian ASD semakin meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Data Center for Desease Control and Prevention (CDC, 2018) menyebutkan bahwa prevalensi kejadian penderita autism meningkat dari 1 per 150 populasi pada tahun 2000 menjadi sebesar 1 per 59 pada tahun 2014. ASD lebih banyak menyerang anak laki-laki, dengan prevalensi 1:37, sedangkan pada anak perempuan 1: 151. Merujuk pada data prevalensi tersebut, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sebesar 237,5 juta dengan laju pertumbuhan penduduk 1,14% diperkirakan memiliki angka penderita ASD sebanyak 4 juta orang.

Autisme, saat ini disebut sebagai gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Terminologi “spectrum” digunakan karena gejala ASD bervariasi dari yang ringan sampai berat. ASD merupakan gangguan perkembangan otak (neurodevelopment) yang ditandai ditandai dengan adanya gangguan dan kesulitan penderita untuk berinteraksi sosial, berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal, serta adanya gangguan perilaku, minat dan aktifitas yang terbatas, berulang,dan stereotipik.

Sampai saat ini penyebab ASD masih belum dipahami secara lengkap. Diduga penyebab ASD bersifat multifaktor, yang merupakan kombinasi antara faktor genetic dan faktor lingkungan.  Peran faktor genetik ditunjukkan adanya peningkatan kejadian ASD pada anak laki-laki, anak kembar identik, maupun pada anak yang mengalami kelainan bawaan seperti sindroma Fragil X. Faktor lain yang diduga memicu kejadian ASD adalah tuanya usia ibu waktu melahirkan, penyulit kehamilan dan persalinan (ibu hamil dengan DM, prematur, asfiksia, infeksi bayi) dan factor lingkungan (racun) yang menyebabkan gangguan perkembangan otak.

Penelitian membuktikan tidak ada hubungan antara vaksin dengan ASD. Hal ini berarti bahwa vaksin bukan sebagai penyebab ASD. Penderita ASD sering disertai dengan kondisi gangguan medis dan perilaku lainnya, yaitu disabilitas intektual (sekitar 45-60% penderita ASD), kejang (11-39% penderita ASD), gangguan pencernaan (50% penderita ASD), gangguan tidur, gangguan sensori (hipersensori maupun hiposensori), gangguan pemusatan perhatian dan gangguan perilaku lainnya. Karena kompleknya permasalahan ASD, maka penderita memerlukan tatalaksana yang komprehensif dari berbagai disiplin ilmu, seperti dokter, perawat, psikolog, pendidik. Selain itu, dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting.

Sebagian besar anak ASD sudah menunjukkan gejala sejak dini, sehingga ASD sejatinya bisa didiagnosis pada anak sebelum usia 2 tahun. Namun, sebagian besar anak ASD didiagnosis setelah usia 4 tahun. Padahal, semakin dini anak terdiagnosis ASD, semakin dini anak akan mendapatkan penanganan yang tepat sehingga memiliki peluang kehidupan yang lebih baik di masa depan. “Ini masih menjadi tantangan di Indonesia, bahwa banyak yang datang sudah dalam kondisi anak berusia lebih dari 2 tahun,” tegas pakar kesehatan anak FK-KMK UGM, dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD., SpA(K), Kamis (8/8) di sekolah Pascasarajana UGM.

Oleh karenanya, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya deteksi dini kejadian ASD, maka UGM bekerjasama tim Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM dengan EMTEK menyelenggarakan Seminar Umum: “Autism Spectrum Disorder”, Kamis (8/8/2019) di gedung Pascasarjana UGM lantai 5. Kegiatan ini akan menghadirkan Pendiri dan Director of Autism Initiative at Mercychurst (AIM) University, Prof. Bradly McGarry. AIM merupakan institusi yang memberikan mentoring dan fasilitasi bagi penderita ASD untuk melanjutkan sekolah di Mercychurst (AIM) University. “Autis bukan penyakit, sehingga tidak ada istilah disembuhkan. Yang perlu diterapi adalah kita, bagaimana memandang anak autis yang memiliki keuatamaan atau kekhususan,” terangnya.

Seminar yang juga dikemas dalam rangkaian kegiatan peringatan Lustrum UGM tahun 2019 ini bertujuan untuk: pertama, menggerakkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap penderita autisme yang cenderung meningkat. Kedua, memberikan pemahaman terhadap masyarakat terkait deteksi dini pada penderita autisme. Ketiga, memberikan gambaran pendidikan berkelanjutan yang sesuai untuk penderita ASD. Keempat, mengintegrasikan penggiat layanan kesehatan, kedokteran, dan pendidikan dalam menangani kasus autisme. (Wiwin/IRO)

File materi seminar: ]http://[gview file=”http://ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1451/2019/08/ASD_lustrum-UGM.ppt”]

X