Perayaan Dies Natalis ke-80 dan Lustrum XVI Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menjadi momentum penting bagi kita semua untuk merefleksikan perjalanan panjang fakultas ini. Delapan dekade bukan sekadar angka usia, melainkan penanda konsistensi kontribusi FK-KMK UGM dalam pendidikan, penelitian, pelayanan kesehatan, serta pengabdian kepada Masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global.
Dalam rangkaian perayaan tahun ini, kita menyaksikan banyak bentuk dukungan, kolaborasi, serta pencapaian yang menunjukkan kuatnya jejaring dan semangat kebersamaan sivitas akademika serta alumni.
Salah satu wujud nyata dukungan tersebut datang dari alumni The Golden Three, yakni alumni angkatan 1989, 1990, dan 1991. Melalui donasi alumni, telah dilakukan renovasi interior Auditorium FK-KMK UGM yang selesai pada Februari 2026. Pembaruan ini tidak hanya memperindah fasilitas fisik fakultas, tetapi juga menjadi simbol ikatan yang kuat antara alumni dan almamaternya. Auditorium yang telah diperbarui ini diharapkan dapat menjadi ruang yang semakin representatif untuk kegiatan akademik, diskusi ilmiah, dan berbagai forum kolaborasi lintas disiplin.
Pada saat yang sama, FK-KMK UGM juga terus memperkuat perannya dalam komunitas global. Tahun ini, fakultas menerima delapan mahasiswa asal Palestina melalui program Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND). Program ini merupakan bagian dari komitmen FK-KMK UGM dalam mendukung keberlanjutan pendidikan tenaga kesehatan bagi masa depan Gaza. Melalui inisiatif ini, kita berharap dapat berkontribusi dalam membangun kembali kapasitas pendidikan kedokteran dan kesehatan di wilayah yang sedang menghadapi tantangan kemanusiaan besar.
Di tingkat nasional, FK-KMK UGM juga dipercaya menjadi lead implementing partner dalam pilot program kerja sama antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan City Cancer Challenge Foundation (C/Can). Hal ini ditandai dengan peluncuran Yogyakarta’s Breast Cancer Initiative (YBCI), sebuah inisiatif kolaboratif yang bertujuan meningkatkan kualitas layanan dan koordinasi penanganan kanker payudara di tingkat daerah.
Program ini menempatkan Yogyakarta sebagai kota percontohan dalam penguatan implementasi layanan kanker payudara di tingkat daerah. Berdasarkan kesiapan tata kelola, kapasitas layanan kesehatan, serta komitmen berbagai pemangku kepentingan lokal, Kota Yogyakarta ditetapkan sebagai Horizon City pertama di Indonesia.
Capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai riset dan inovasi yang dikembangkan oleh para peneliti FK-KMK UGM. Di antaranya melalui program Collaborative cOMMUNIty Care breAst cancEr inDonesia (COMMUNICATED) serta Program Membangun Komunitas TATAK (Tangguh dan Tanggap Kanker). Kedua program ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam memberikan dukungan sosial bagi pasien kanker payudara metastasis dan keluarganya melalui edukasi kader serta penguatan jejaring masyarakat.
Selain itu, penguatan layanan pasien kanker di fasilitas kesehatan juga dilakukan melalui Projek Navigasi Pasien Kanker (NAPAK). Peran navigator pasien terbukti dapat membantu meningkatkan kualitas koordinasi layanan dan hasil tatalaksana kanker. Kompetensi ini bahkan telah mulai dikembangkan dalam kurikulum Magister Keperawatan serta berbagai program pelatihan berbasis rumah sakit.
Dalam bidang riset klinis, kita juga patut berbangga atas pencapaian dr. Susanna Hilda Hutajulu, Sp.PD-KHOM, Ph.D. yang memperoleh the 9th Kobayashi Foundation Award atas kontribusinya dalam penelitian kemoterapi kanker. Penghargaan ini diberikan kepada peneliti dan tim medis yang memberikan kontribusi luar biasa dalam pengembangan ilmu kedokteran, sekaligus menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan di FK-KMK UGM memiliki dampak yang diakui secara internasional.
Sebagai bagian dari Sekretariat ASEAN Institute of Disaster Health Management (AIDHM), FK-KMK UGM turut berperan dalam penyelenggaraan 2nd Meeting of the AIDHM Board of Directors pada awal tahun 2026. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan negara anggota ASEAN, ASEAN Secretariat, AHA Centre, Sekretariat AIDHM, Japan International Cooperation Agency (JICA), serta tim ARCH Project. Forum tersebut membahas evaluasi pelaksanaan ARCH Project Phase 2 sekaligus mempersiapkan implementasi ARCH Plus Project sebagai langkah lanjutan dalam memperkuat sistem manajemen bencana kesehatan di kawasan ASEAN.
Di sisi internal, FK-KMK UGM juga terus memperkuat tata kelola organisasi melalui pemberian Audit Mutu Internal (AMI) Award sebagai bentuk apresiasi terhadap unit kerja dengan kinerja terbaik. Pada tahun ini, penghargaan juara pertama diraih oleh Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi, diikuti oleh Program Pendidikan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi, serta Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.
Seluruh capaian ini menunjukkan bahwa kekuatan FK-KMK UGM tidak hanya terletak pada reputasi akademiknya, tetapi juga pada kolaborasi yang kuat antara dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, mitra institusi, serta masyarakat.
Memasuki usia ke-80 tahun, tantangan di bidang kesehatan akan semakin kompleks, mulai dari transisi epidemiologi, perkembangan teknologi kesehatan, hingga dinamika global yang mempengaruhi sistem kesehatan. Oleh karena itu, FK-KMK UGM harus terus memperkuat perannya sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan inovasi kesehatan yang berdampak bagi masyarakat.
Melalui semangat kolaborasi, integritas akademik, serta komitmen untuk terus berinovasi, saya yakin FK-KMK UGM akan terus memberikan kontribusi yang bermakna bagi Indonesia dan dunia.