FK-KMK UGM. Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa layanan terapi Sujok sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup lansia. Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Teratai, Dobalan, Timbulharjo, Bantul, dengan melibatkan mahasiswa keperawatan yang didampingi dosen dalam memberikan layanan kesehatan berbasis terapi non-farmakologis. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan intervensi kesehatan yang aman, mudah diterapkan, serta berfokus pada kesejahteraan holistik lansia. Kegiatan dilaksanakan pada 6 April 2026 di bawah naungan Puskesmas Sewon 1 Bantul.
Kegiatan ini merupakan bentuk integrasi antara pendidikan dan pengabdian masyarakat, di mana mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan di komunitas. Di bawah bimbingan Prof. Intansari Nurjannah, S.Kp., M.NSc., Ph.D., mahasiswa melakukan pengkajian kondisi pasien secara menyeluruh, menentukan metode terapi yang sesuai, serta melakukan evaluasi terhadap hasil intervensi. Selain itu, mahasiswa juga memberikan edukasi kepada lansia mengenai cara menjaga kesehatan secara mandiri melalui teknik terapi Sujok yang sederhana dan minim efek samping.
Tercatat sebanyak 50 pasien mengikuti layanan terapi dengan mayoritas berusia di atas 60 tahun. Keluhan yang disampaikan meliputi nyeri lutut, nyeri punggung bawah, kesemutan pada tangan, hingga nyeri bahu. Selain itu, beberapa pasien juga memiliki kondisi penyerta seperti hipertensi, kadar kolesterol tinggi, serta gangguan saraf yang telah berlangsung lama. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menerapkan berbagai teknik terapi Sujok, seperti pemijatan menggunakan probe pada titik refleksi, penempelan biji-bijian, penggunaan magnet, hingga penerapan Elastic Wire Color and Tera-Wave Therapy.
Penentuan titik terapi disesuaikan dengan kebutuhan pasien melalui pendekatan Sujok Basic Correspondence maupun Sujok Triorigin. Selain itu, pasien juga diajarkan teknik Mudra sebagai metode yang mudah diingat dan dapat dilakukan secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Hasil evaluasi menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri yang signifikan pada sebagian besar pasien. Rata-rata pasien mengalami penurunan skala nyeri sebesar 2 hingga 3 poin setelah menjalani terapi selama 20 hingga 30 menit. Selain itu, pasien juga merasakan efek relaksasi dan kenyamanan yang meningkat, yang turut berkontribusi pada kesejahteraan fisik dan mental mereka.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyediaan layanan kesehatan non-farmakologis yang meningkatkan kualitas hidup lansia secara menyeluruh, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis praktik langsung di masyarakat, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penguatan layanan kesehatan di tingkat komunitas seperti posyandu, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dengan kolaborasi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan kader masyarakat dalam mendukung pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. (Kontributor: Latifa Hanum Sabrina, Maharani Amrita Yogheswari dan Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD).



