FK-KMK UGM. Dosen Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Sarrah Ayuandari, PhD. Sp.O.G., Subsp.F.E.R, meraih juara 1 Young ASEA Session pada acara The 14th Asian Congress on Endometriosis 2026. Prestasi ini diperoleh pada 24-25 Oktober 2026, di Pan Pacific Singapore. dr. Sarrah berhasil meraih pencapaian ini melalui presentasi oral penelitian berjudul Successful Isolation of Viable Ovarian Follicles from Endometrioma Capsule Tissues: A Potential Resource for Fertility Preservation.
Penelitian tersebut berawal dari ketertarikan dr. Sarrah pada bidang preservasi fertilitas yang telah ia tekuni sejak menjalani program PhD (S3) di Innsbruck University, Austria pada 2011. Saat ini, preservasi fertilitas tidak hanya diperuntukan pada kasus keganasan, tapi juga pada kasus non keganasan seperti endometriosis.
Selain itu, penelitian tersebut juga didorong oleh ketertarikan dr. Sarrah terhadap perkembangan bioengineering dalam bidang kedokteran reproduksi. Saat ini, berbagai teknologi seperti three-dimensional follicle culture, tissue engineering, hingga kultur organoid mulai dikembangkan untuk menciptakan lingkungan yang dapat mendukung pertumbuhan folikel di luar tubuh.
“Namun, salah satu tantangan dalam pengembangan teknologi tersebut adalah ketersediaan sumber folikel yang dapat dimanfaatkan. Karena itu, kami ingin mengeksplorasi apakah jaringan hasil pembedahan yang selama ini dianggap sebagai limbah medis sebenarnya memiliki potensi biologis yang dapat dikembangkan lebih lanjut,” kata dr Sarrah.
Dalam presentasinya, dr. Sarrah menyampaikan beberapa hal utama. Pertama, tantangan mempertahankan fertilitas pada perempuan dengan endometriosis, khususnya mereka yang memerlukan tindakan operasi pengangkatan kista ovarium serta risiko turunnya cadangan sel telur. Kedua, potensi jaringan kapsul endometrioma sebagai sumber folikel ovarium yang selama ini belum banyak dieksplorasi. Ketiga, metode penelitian yang dilakukan untuk mengidentifikasi, mengisolasi, dan menilai viabilitas atau kemampuan hidup folikel yang ditemukan pada jaringan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa folikel ovarium masih dapat ditemukan dan diisolasi dari jaringan kapsul endometrioma, dan sebagian di antaranya menunjukkan viabilitas yang baik. Bagi dr. Sarrah, temuan ini menarik karena membuka kemungkinan pemanfaatan jaringan yang biasanya dibuang setelah operasi sebagai sumber biologis untuk pengembangan teknologi preservasi fertilitas di masa depan.
“Namun, penelitian ini masih merupakan tahap awal. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui kemampuan folikel tersebut bertahan, berkembang, dan potensi pemanfaatannya secara klinis,” ujarnya.
Penelitian yang dilakukan dr. Sarrah tersebut merupakan penelitian yang didanai oleh Hibah Equity 2025-2026. dr. Sarrah menjelaskan, persiapan penelitian yang dilakukan berlangsung cukup lama, mulai dari penyusunan konsep, pengumpulan sampel, pengerjaan di laboratorium, analisis hasil, hingga penyusunan abstrak ilmiah. Untuk persiapan presentasi kompetisi, dr. Sarrah berusaha menyampaikan penelitian yang cukup kompleks itu menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami dalam waktu presentasi yang terbatas, yaitu 5-7 menit.
“Tantangan utamanya adalah bagaimana menjelaskan latar belakang penelitian, metode, hasil, dan potensi manfaatnya secara singkat, tetapi tetap mempertahankan substansi ilmiahnya. Menurut saya, hal yang penting bukan hanya memiliki hasil penelitian yang menarik, tetapi juga mampu mengkaitkan antara hasil penelitian dengan impact atau kemanfaatan di setting klinis, sehingga hasilnya dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta pelayanan kepada pasien,” jelas dr. Sarrah.
Dalam acara yang dihadiri sekitar 500 orang dari 20 negara tersebut, dr. Sarrah berhasil mengalahkan para peneliti muda Asia lainnya di hadapan para ahli endometriosis dari berbagai negara Asia. Atas pencapaian yang diperoleh, dr. Sarrah menyampaikan rasa terima kasih kepada LPDP Hibah Equity, para dosen, konsulen, kolega, serta tim riset laboratorium yang telah memberikan dukungan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan penelitian. Dukungan dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FK-KMK UGM/RSUP Dr. Sardjito, khususnya Divisi Fertilitas dan Endokrinologi Reproduksi, keluarga, dan rekan-rekan juga sangat berarti dalam pengembangan penelitiannya.
“Bagi saya, penghargaan ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga merupakan apresiasi terhadap kerja keras dan kolaborasi seluruh tim,” ungkapnya.
Ke depannya, dr. Sarrah dan tim penelitian ingin melanjutkan riset untuk mengevaluasi kualitas dan kemampuan hidup folikel yang berhasil diisolasi, serta mengeksplorasi kemungkinan pengembangan folikel tersebut melalui teknologi kultur in vitro. Ia berharap, penelitiannya dapat menjadi salah satu pondasi bagi pengembangan teknologi tersebut, sekaligus mendorong kolaborasi antara dokter klinis, embriolog, ahli biologi molekuler, dan bioengineer.
Kepada para ginekolog di masa depan, dr. Sarrah juga berharap agar mereka tidak hanya menjadi klinisi yang kompeten, tetapi juga memiliki rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
“Saya juga berharap semakin banyak penelitian inovatif yang lahir dari Indonesia. Kita memiliki banyak permasalahan klinis yang dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat, tidak hanya bagi pasien di Indonesia, tetapi juga bagi perkembangan ilmu kedokteran secara global,” pesan dr. Sarrah.
Prestasi dr. Sarrah Ayuandari, PhD. Sp.O.G., Subsp.F.E.R dalam ajang The 14th Asian Congress on Endometriosis 2026 ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera karena penelitian inovatifnya mengenai pelestarian fertilitas melalui isolasi folikel ovarium memberikan harapan baru bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan reproduksi perempuan, khususnya bagi pasien penderita endometriosis. Selain itu, terobosan dalam memanfaatkan jaringan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah medis menjadi sumber biologis yang potensial juga turut mendukung pencapaian SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (Penulis: Citra/Humas).



