FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM): Universitas Gadjah Mada memublikasikan riset yang mengkaji infeksi cacing usus Soil-Transmitted Helminths (STH) pada anak di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menelaah kondisi kesehatan anak usia dini, lokasi penelitian di wilayah Sumba Barat, serta dampak infeksi cacing terhadap status gizi anak, dengan tujuan memberikan rekomendasi pengendalian yang lebih komprehensif. Studi ini dilakukan oleh tim peneliti FK-KMK UGM dan mitra, dengan pengambilan data pada periode Oktober 2022 hingga Januari 2023, meskipun program pemberian obat cacing rutin telah berjalan sejak 2017.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health tahun 2025, Volume 25, dengan judul “Malnutrition among children under 7 years of age linked to ascariasis—evidence from West Sumba, Indonesia, despite ongoing deworming program.” Artikel tersebut ditulis oleh Rizqiani Amalia Kusumasari, Hanindyo Adi, Tri Baskoro Tunggul Satoto, Abdul Wahab, dan E. Elsa Herdiana Murhandarwati, dengan keterlibatan Departemen Parasitologi FK-KMK UGM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi cacingan masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang signifikan. Penelitian potong lintang berbasis komunitas ini melibatkan 443 anak usia di bawah tujuh tahun yang terdaftar di posyandu pada delapan fasilitas layanan kesehatan primer di Kabupaten Sumba Barat. Pemeriksaan sampel feses dilakukan menggunakan metode Kato-Katz untuk mendeteksi keberadaan cacing STH, sementara status gizi anak dinilai melalui indikator tinggi badan menurut umur (HAZ) guna mengidentifikasi kejadian stunting.
Dari hasil analisis, sebanyak 32,5 persen anak teridentifikasi terinfeksi cacing STH, dengan kasus terbanyak ditemukan di wilayah Kota Waikabubak. Dua spesies yang paling dominan adalah Trichuris trichiura dan Ascaris lumbricoides. Temuan penting dari studi ini adalah adanya hubungan yang bermakna antara infeksi Ascaris lumbricoides dengan kejadian stunting, yang menunjukkan bahwa infeksi cacing dapat berkontribusi langsung pada masalah malnutrisi kronis pada anak. Pemetaan sebaran kasus juga memperlihatkan adanya kantong-kantong risiko ascariasis yang berpotensi menjadi wilayah prioritas intervensi kesehatan.
Para peneliti menekankan bahwa pemberian obat cacing secara rutin memang berperan menurunkan tingkat keparahan infeksi, namun belum cukup untuk memutus rantai penularan. Faktor lingkungan seperti keterbatasan akses jamban dan septic tank, serta perilaku anak yang sering bermain di tanah terkontaminasi, turut memperbesar risiko infeksi ulang. Oleh karena itu, pendekatan pengendalian yang lebih terpadu dinilai mendesak untuk diterapkan.
Studi ini menyimpulkan bahwa pengendalian cacingan pada anak tidak dapat hanya mengandalkan intervensi farmakologis, melainkan memerlukan perbaikan sanitasi, perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, serta penguatan peran layanan kesehatan primer dan posyandu. Pendekatan terpadu tersebut diharapkan mampu menekan penularan berulang dan sekaligus berkontribusi pada penurunan angka stunting di wilayah endemis.
Penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan upaya pencegahan penyakit menular, SDG 2: Tanpa Kelaparan dalam penanggulangan malnutrisi anak, SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui dorongan perbaikan lingkungan, SDG 1: Tanpa Kemiskinan karena cacingan berkaitan erat dengan kerentanan sosial ekonomi, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui edukasi kesehatan masyarakat, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas sektor dan institusi. (Kontributor: Rizqiani A. Kusumasari).




