FK-KMK UGM Ungkap Ancaman Trikuriasis pada Balita di Wilayah Endemis Malaria Papua

FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama tim peneliti memublikasikan artikiel ilmiah dengan judul “Molecular diagnosis of Trichuris trichiura: Prevalence and associated risk factors in children under five living in a malaria-endemic area in Papua, Indonesia” yang diterbitkan pada jurnal PLOS ONE (2025) dan dipublikasikan pada 4 November 2025. Artikel ini ditulis oleh Dhika Juliana Sukmana, Tri Nury Kridaningsih, Hartalina Mufidah, Enny Kenangalem, Faustina Helena Burdam, Tri Nugraha Susilawati, Jeanne Rini Poespoprodjo, serta Prof. dr. E. Elsa Herdiana Murhandarwati. Publikasi ini menyoroti tantangan kesehatan anak balita di wilayah endemis malaria, khususnya di Timika, Papua, dengan menekankan ancaman infeksi cacing Trichuris trichiura yang selama ini kerap terabaikan.

Penelitian ini dilakukan di 16 kampung di wilayah Timika dengan melibatkan 181 anak balita. Fokus kajian diarahkan pada pengukuran prevalensi trikuriasis serta faktor risiko yang menyertainya, menggunakan pendekatan diagnosis molekuler berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR). Metode ini dipilih karena memiliki sensitivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional Kato-Katz yang selama ini banyak digunakan di layanan kesehatan dasar.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara metode diagnosis. Pemeriksaan mikroskopis mencatat prevalensi trikuriasis sebesar 13,8 persen, sementara penggunaan qPCR mengungkap prevalensi yang jauh lebih tinggi, yakni 31,5 persen. Anak berusia di atas tiga tahun tercatat memiliki risiko hingga tiga kali lebih besar untuk terinfeksi. Selain itu, anak dengan kadar hemoglobin rendah atau anemia memiliki risiko dua kali lipat mengalami trikuriasis. Studi ini juga menemukan sekitar 10 persen anak terinfeksi malaria, dan koinfeksi malaria serta trikuriasis terbukti meningkatkan risiko anemia secara bermakna.

Kontribusi Prof. Elsa Herdiana Murhandarwati dalam penelitian ini menegaskan bahwa masalah kesehatan anak di daerah endemis malaria tidak dapat dilihat secara parsial. Infeksi cacing dan malaria saling berkelindan, terutama melalui dampaknya terhadap anemia yang berpengaruh langsung pada tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, strategi kesehatan masyarakat perlu dirancang secara terpadu, tidak hanya berfokus pada malaria, tetapi juga pada penyakit infeksi lain yang bersifat “sunyi” namun berdampak jangka panjang.

Publikasi ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui upaya pengendalian penyakit infeksi dan pencegahan anemia pada anak usia dini. Selain itu, penelitian ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dengan menyediakan dasar ilmiah bagi penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat di wilayah rentan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Kontributor: Kharisma Dewi).