FK-KMK UGM Tingkatkan Literasi Kesehatan Masyarakat soal Leptospirosis di Musim Hujan

FK-KMK UGM. Pusat Kedokteran Tropis (PKT) FK-KMK UGM menyelenggarakan program edukasi publik TropmedAsk sebagai respons atas meningkatnya kasus leptospirosis di sejumlah daerah pada awal tahun 2026. Program ini menghadirkan dr. Noviantoro Sunarko Putro, Sp.PD., dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Akademik UGM, untuk menjawab pertanyaan masyarakat seputar leptospirosis melalui media sosial. Kegiatan ini dilaksanakan seiring masih berlangsungnya musim hujan yang meningkatkan risiko penularan penyakit tersebut.

Dalam sesi edukasi tersebut, dr. Noviantoro yang akrab disapa dr. Koko menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang paling sering ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit yang dikenal sebagai penyakit kencing tikus ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Ia menegaskan bahwa musim hujan menjadi faktor risiko utama karena bakteri dapat bertahan lebih lama di lingkungan lembap dan air tergenang.

Meskipun identik dengan tikus, bakteri Leptospira interrogans juga dapat ditemukan pada berbagai mamalia lain seperti kucing, anjing, sapi, babi, kambing, dan domba. Namun, tikus memiliki peran penting dalam rantai penularan karena bakteri dapat menetap di kandung kemih tikus selama berbulan-bulan dan dikeluarkan melalui urin, sehingga mencemari lingkungan dalam jangka waktu panjang.

Secara klinis, leptospirosis kerap sulit dikenali karena gejalanya menyerupai infeksi umum seperti demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun, terdapat ciri khas berupa nyeri pada otot betis, punggung, dan perut. Pada kondisi berat, dapat muncul perdarahan, gangguan fungsi hati yang menyebabkan tubuh menguning, serta gagal ginjal akut dengan penurunan produksi urin. “Akibatnya, racun yang seharusnya dibuang lewat kencing jadi menumpuk di dalam dan meracuni tubuh,” jelas dr. Koko.

Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap anjuran medis, terutama pada kasus berat yang memerlukan perawatan intensif seperti ventilator atau terapi cuci darah. Apabila pasien mampu melewati fase kritis, peluang pemulihan relatif tinggi.

Dalam aspek pencegahan, masyarakat diimbau untuk menghindari kontak dengan air tergenang dan menggunakan alat pelindung diri saat berisiko terpapar. Informasi riwayat paparan lingkungan juga menjadi kunci dalam penegakan diagnosis, mengingat leptospirosis kerap sulit dibedakan dari penyakit lain seperti demam berdarah dengue dan tifus. “Keterangan dari pasien menjadi kunci, misalnya apakah di sekitarnya terdapat got, tumpukan sampah, atau adanya kasus leptospirosis di lingkungan sekitar,” jelas dr. Koko. Ia menambahkan, “DBD itu risiko kematiannya bisa terjadi di minggu-minggu pertama, sedangkan Leptospirosis bisa minggu kedua atau setelahnya.”

Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kesadaran dan pencegahan penyakit menular, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan edukasi kesehatan berbasis ilmiah kepada masyarakat luas, serta SDG 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan dengan dorongan menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan risiko kesehatan akibat faktor lingkungan. (Kontributor: Muhammad Ali Mahrus).