FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Sehat Mental di Era Digital” sebagai bagian dari peringatan Hari Kesehatan Jiwa, yang berlangsung pada 9 Oktober 2025 di Yogyakarta. Kegiatan ini digagas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan mengenai dampak era digital terhadap kesehatan mental, sekaligus memberikan ruang diskusi mengenai strategi pencegahan dan penanganan gangguan jiwa di tengah derasnya arus informasi digital.
Seminar menghadirkan dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ (K) sebagai moderator, seorang psikiater konsultan elektrofisiologi dan neuroimaging dari RSJ Prof. dr. Soerojo Magelang yang juga aktif sebagai influencer kesehatan jiwa. Santi memandu diskusi dengan menghadirkan perspektif klinis yang mudah dipahami, sekaligus membangun interaksi hangat dengan audiens dari berbagai latar belakang.
Pembicara pertama, Carolus Wijoyo Adinugroho, S.Psi., M.Psi., Psikolog, membahas pentingnya mindfulness sebagai strategi menjaga kesehatan mental di tengah paparan digital. Ia menekankan bahwa gadget dan media sosial merupakan alat yang mempermudah kehidupan, namun bisa menimbulkan kecemasan, kelelahan kognitif, FOMO, dan gangguan tidur bila digunakan tanpa kesadaran. Melalui prinsip mindfulness hadir saat ini, menerima tanpa menghakimi, berbelas kasih pada diri sendiri, dan mengarahkan fokus secara sadar—individu dapat mengenali emosi, mengendalikan impuls digital, dan meningkatkan konsentrasi.
Pembicara kedua, Hani Kumala, M.Psi., Psikolog Klinis, memaparkan Dialectical Behavior Therapy (DBT) sebagai terapi yang menggabungkan mindfulness dengan perubahan perilaku. DBT membantu individu memahami emosi, mengatur stres, serta meningkatkan efektivitas interpersonal. Hani menekankan bahwa tujuan terapi bukan menghapus masalah, tetapi mencegah eskalasi gangguan mental dan membantu klien menjalani hidup lebih bermakna.
Sementara itu, dr. Tirta Mandira Hudhi, M.B.A., menyoroti fenomena rendahnya rentang perhatian dan maraknya self-diagnose di era digital. Menurutnya, ledakan informasi dapat menimbulkan kebingungan kolektif, memengaruhi pengambilan keputusan, dan memerlukan peran tenaga profesional untuk menjembatani kesenjangan informasi secara kolaboratif.
Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dengan mendorong peningkatan kesehatan mental masyarakat di era digital, serta SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui peningkatan literasi kesehatan mental dan keterampilan praktis bagi tenaga kesehatan dan publik. (Kontributor: Vina Yulia Anhar, MPH).




