FK-KMK UGM Teliti Perbandingan Operasi Terbuka dan Laparoskopi pada Hernia Inguinal Anak

FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama tim peneliti memublikasikan artikel ilmiah dengan judul “Comparison of inguinal hernia repair outcomes between open and laparoscopic approaches in a pediatric population: a retrospective cohort study” dipublikasikan pada 2026 dalam jurnal internasional Annals of Surgical Treatment and Research, dengan DOI https://doi.org/10.4174/astr.2026.110.6.400. Penelitian ini dilakukan oleh Prof. dr. Gunadi, Ph.D., Sp.BA., Subsp.DA(K), dr. Akhmad Makhmudi, Wahyudhy Adriansyah, Aditya Rifqi Fauzi, Verrell Christopher Amadeus, Tiara Putri Leksono, Qisthinadia Hazhiyah Setiadi, dan Andi Dwihantoro.

Hernia inguinal merupakan salah satu kondisi yang cukup sering membutuhkan tindakan pembedahan pada anak. Kondisi ini terjadi ketika jaringan atau organ menonjol melalui area yang lemah pada dinding perut di sekitar lipat paha. Operasi diperlukan untuk memperbaiki hernia sekaligus mengurangi risiko komplikasi, termasuk inkarserasi, yaitu ketika jaringan atau organ yang menonjol terjebak di dalam kantong hernia dan berpotensi mengalami gangguan aliran darah.

Dalam praktik klinis, penanganan hernia inguinal pada anak umumnya dilakukan melalui dua pendekatan, yakni operasi terbuka (open repair) dan laparoskopi. Keduanya digunakan untuk memperbaiki hernia, tetapi memiliki teknik pelaksanaan yang berbeda. Perbandingan luaran dari kedua metode tersebut menjadi penting untuk membantu tenaga medis mempertimbangkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan mengevaluasi 92 pasien anak yang menjalani operasi hernia inguinal di RSUP Dr. Sardjito selama periode Januari 2015 hingga Desember 2020. Pasien dibagi ke dalam dua kelompok dengan jumlah yang seimbang, yaitu kelompok laparoskopi dan kelompok operasi terbuka. Para peneliti kemudian membandingkan sejumlah luaran klinis melalui analisis statistik yang disesuaikan dengan karakteristik data penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani operasi laparoskopi memiliki durasi rawat inap (length of stay/LOS) yang secara signifikan lebih singkat dibandingkan pasien yang menjalani operasi terbuka. Temuan ini memperlihatkan adanya manfaat laparoskopi dalam aspek pemulihan yang berkaitan dengan lama perawatan di rumah sakit. Durasi rawat inap menjadi salah satu indikator penting dalam evaluasi pelayanan bedah karena berkaitan dengan proses pemulihan pasien dan kebutuhan perawatan setelah tindakan.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pendekatan bedah tidak memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian kekambuhan setelah operasi. Analisis multivariat juga tidak menemukan hubungan bermakna antara kekambuhan dan variabel lain yang diteliti, yaitu jenis kelamin, usia saat operasi, serta riwayat prematuritas. Selain itu, tidak ditemukan kasus infeksi luka operasi (surgical site infection/SSI) pada kedua kelompok pasien.

Laparoskopi menunjukkan keunggulan dalam hal durasi rawat inap, tetapi hasil penelitian belum memberikan dasar untuk menyatakan bahwa pendekatan ini lebih unggul dalam seluruh aspek luaran klinis. Kedua metode tetap perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien, pertimbangan klinis, serta kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan dalam melaksanakan tindakan.

Para peneliti merekomendasikan penelitian prospektif multisenter dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk memperkuat bukti mengenai efektivitas dan keamanan kedua pendekatan bedah. Penelitian lanjutan diperlukan agar perbandingan tidak hanya mencakup lama rawat inap dan kekambuhan, tetapi juga dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai hasil penanganan hernia inguinal pada populasi anak.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan bukti ilmiah untuk mendukung pelayanan bedah anak yang aman dan efektif. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan pengetahuan dan kapasitas akademik di bidang kedokteran dan kesehatan. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui upaya memperkuat bukti ilmiah yang dapat mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan bagi anak. (Kontributor: Prof. Gunadi dkk.).