FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama tim peneliti memublikasikan hasil penelitian yang berjudul “The Prospective Use of Smart Wearable Technology: Objective Functional Evaluation Following Endoscopic Spine Surgery Surgery and Technique” tersebut dipublikasikan dalam Journal of Minimally Invasive Spine pada 2026 dengan DOI 10.21182/jmisst.2025.03041. Penelitian melibatkan dr. Yudha Mathan Sakti, Sp.O.T.Subsp.O.T.B(K), dr. Zikrina Abyanti Lanodiyu, dr. Anak Agung Ngurah Nata Baskara, dr. Emir Riandika Samyudia, dr. Wilhelmina Wilma Wijaya, dan dr. Deas Makalingga Emiri.
Penelitian yang dilakukan mengenai pemanfaatan teknologi wearable sebagai alat evaluasi objektif pada pasien setelah menjalani operasi endoskopi tulang belakang. Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk memperoleh gambaran kondisi pasien pascaoperasi yang tidak hanya mengandalkan penilaian subjektif melalui kuesioner. Tim peneliti mengevaluasi potensi penggunaan Xiaomi Mi Band 4 untuk merekam aktivitas fisik pasien secara objektif setelah menjalani interlaminar percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD) pada kasus herniasi diskus lumbal.
Penelitian menggunakan metode kohort prospektif dengan consecutive sampling. Pasien dengan herniasi diskus lumbal yang menjalani PELD interlaminar di RSUP Dr. Sardjito menjadi subjek penelitian. Pengamatan dilakukan sejak dua minggu sebelum operasi hingga empat minggu setelah operasi sehingga perubahan kondisi pasien dapat dilihat dari periode sebelum hingga setelah tindakan pembedahan.
Dalam penelitian tersebut, perangkat Xiaomi Mi Band 4 digunakan untuk memperoleh sejumlah parameter objektif, yaitu denyut jantung, rata-rata jumlah langkah harian, dan jarak tempuh. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan parameter subjektif yang diperoleh melalui instrumen penilaian terstandar, meliputi Visual Analogue Scale (VAS), Oswestry Disability Index (ODI), dan Sciatica Bothersomeness Index (SBI).
Sebanyak 21 pasien terlibat dalam penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah langkah dan jarak tempuh memiliki korelasi yang signifikan dengan seluruh parameter yang dinilai melalui kuesioner. Sementara itu, parameter denyut jantung menunjukkan korelasi dengan SBI. Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara data aktivitas fisik yang direkam oleh perangkat wearable dan sejumlah indikator yang digunakan untuk menilai kondisi pasien setelah operasi.
Meski demikian, parameter yang diperoleh dari perangkat smart wearable belum menunjukkan kemampuan untuk memprediksi kepuasan pasien secara statistik. Hasil ini menjadi catatan penting dalam menempatkan teknologi wearable dalam evaluasi pascaoperasi. Perangkat tersebut belum dapat menggantikan instrumen penilaian subjektif yang telah digunakan secara klinis, tetapi berpotensi memberikan informasi tambahan mengenai aktivitas pasien secara lebih objektif dan berkelanjutan.
Penggunaan perangkat wearable juga memberikan peluang untuk memantau aktivitas pasien di luar lingkungan fasilitas kesehatan. Data mengenai jumlah langkah, jarak tempuh, dan denyut jantung dapat menjadi informasi tambahan bagi tenaga kesehatan dalam memahami perkembangan aktivitas pasien selama masa pemulihan. Dengan demikian, pemantauan berbasis teknologi dapat dipadukan dengan evaluasi klinis dan penilaian subjektif untuk memperoleh gambaran kondisi pasien yang lebih utuh.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera karena mendukung pengembangan pemantauan kesehatan dan evaluasi pemulihan pasien pascaoperasi. SDG 9 Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi wearable dalam mendukung inovasi pemantauan kesehatan berbasis digital. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi tim peneliti FK-KMK UGM, RSUP Dr. Sardjito, dan lingkungan akademik UGM dalam menghasilkan bukti ilmiah. (Kontributor: dr. Yudha Mathan Sakti dkk.)




