FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM): Banjar — Sebuah laporan kasus beruntun (case series) yang melibatkan peneliti lintas institusi dari Indonesia dan Jerman mengungkap keberadaan strongyloidiasis, infeksi cacing Strongyloides stercoralis, di wilayah pedesaan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Riset ini bertujuan mengidentifikasi keberadaan infeksi, sumber penularan, serta faktor risiko pada masyarakat desa, dengan sasaran komunitas pedesaan yang memiliki keterbatasan sanitasi dan akses layanan kesehatan. Penelitian dilakukan melalui survei Soil-Transmitted Helminths (STH) pada Mei–Juli 2024 dan dipublikasikan pada 1 Agustus 2025.
Studi ini dipublikasikan dalam One Health Journal, Volume 11 Nomor 1, dengan judul artikel yang membahas temuan strongyloidiasis pada masyarakat pedesaan di Kabupaten Banjar. Artikel tersebut ditulis oleh Priska PP. Kristi, Peni Kusumasari, Puspawati Puspawati, Yurniah Tanzil, Dian Nurmansyah, Muhammad Syairaji, Rizqiani A. Kusumasari, Eti N. Sholikhah, Nina Bühler, Issa Sy, Sophie Schneitler, Sören L. Becker, dan Elsa H. Murhandarwati, dengan keterlibatan peneliti dari FK-KMK UGM dan mitra internasional.
Dari total 224 sampel feses yang diperiksa, peneliti mengidentifikasi empat kasus strongyloidiasis atau sekitar 1,8 persen. Seluruh kasus ditemukan di satu desa dan dialami oleh perempuan yang bekerja sebagai petani. Menariknya, para penderita hanya melaporkan keluhan ringan dan tidak spesifik, sehingga infeksi berpotensi terabaikan tanpa pemeriksaan laboratorium yang memadai.
Untuk memastikan diagnosis, tim peneliti menggunakan metode Baermann funnel guna mendeteksi larva S. stercoralis, yang kemudian dikonfirmasi dengan pemeriksaan molekuler qPCR. Pendekatan ini menunjukkan bahwa infeksi dapat terjadi pada individu yang secara klinis tampak sehat, sehingga memperkuat urgensi skrining aktif di komunitas berisiko.
Selain pemeriksaan pada manusia, penelitian ini juga menyoroti faktor lingkungan. Sampel tanah yang diambil dari area aktivitas warga menunjukkan keberadaan larva S. stercoralis yang masih hidup di salah satu lokasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa tanah yang terkontaminasi dapat menjadi sumber penularan berkelanjutan, terutama di wilayah dengan praktik buang air besar sembarangan dan keterbatasan fasilitas jamban serta air bersih.
Peneliti menegaskan bahwa tantangan pengendalian strongyloidiasis di Indonesia semakin kompleks karena keterbatasan akses terhadap ivermectin, obat lini pertama untuk infeksi ini. Oleh karena itu, pencegahan melalui perbaikan sanitasi, edukasi masyarakat, serta penguatan deteksi dini di layanan kesehatan primer menjadi langkah yang sangat penting.
Selain itu selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pencegahan penyakit menular, serta mendukung SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui edukasi kesehatan, SDG 1: Tanpa Kemiskinan dengan menekan beban penyakit pada kelompok rentan, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi riset lintas institusi dan negara. (Kontributor: Rizqiani A. Kusumasari).




