FK-KMK UGM. Pusat Kajian Kedokteran Herbal (PKKH) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menyelenggarakan partisipasi aktif dalam gelaran Jogja Culture Wellness Tourism (JCWT) 2025 sebagai bentuk kontribusi pada pengembangan herbal ilmiah dan pariwisata kesehatan di Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 15 November 2025, bertempat di Hotel Mustika Yogyakarta, dan merupakan rangkaian agenda unggulan yang dipimpin oleh GKR Bendoro serta berada di bawah koordinasi Badan Promosi Pariwisata Dinas Pariwisata DIY.
PKKH hadir mewakili FK-KMK UGM atas penugasan dari pimpinan fakultas, membawa misi memperkuat pengembangan wellness tourism berbasis sains, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Pada penyelenggaraan minggu ketiga ini, JCWT 2025 mengusung tema “Spiritual Wellness & Energy Healing”, yang mempertemukan beragam unsur kesehatan holistik, terapi energi, dan kearifan lokal khas Yogyakarta. Sebagai bagian dari Dewan Jamu Indonesia, PKKH memainkan peran strategis dengan menampilkan hasil riset, inovasi herbal, serta edukasi kepada masyarakat terkait potensi jamu dan tanaman obat sebagai pilar pariwisata kesehatan.
Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah booth PKKH yang menampilkan berbagai produk unggulan hasil penelitian sivitas akademika. Tempe probiotik karya Dr. Rio Jati Kusuma, S.Gz., MS., menjadi salah satu inovasi yang paling diminati. Produk ini memiliki kandungan bakteri asam laktat lebih tinggi dan dikembangkan sebagai pangan fungsional untuk menunjang pola makan sehat. Inovasi tersebut menjadi contoh konkret bagaimana penelitian ilmiah dapat memperkaya kuliner lokal sekaligus berkontribusi pada kesehatan masyarakat.
Inovasi lainnya yang ditampilkan adalah Diversiloid Gel, gel herbal antikeloid hasil riset Prof. Dr. Apt. Mae Sri Hartati W., M.Si., yang telah memperoleh sertifikat hak paten dan sertifikat merek, serta tengah memasuki tahap peluncuran. Selain itu, PKKH juga menghadirkan produk kosmetik herbal Scinera karya drg. Fara Silvia Yuliani, M.Sc., Ph.D., berbahan aktif delima dan centella, yang kini telah tersedia melalui pemasaran daring maupun luring. Kehadiran berbagai produk ini menunjukkan luasnya spektrum penelitian PKKH, mulai dari pangan fungsional hingga kosmetik herbal yang kompetitif di pasar global.
PKKH juga menegaskan komitmen pengabdian masyarakat dengan melibatkan desa binaan, di antaranya Kelompok Wanita Tani Singosaren dan Café Jamu Lokanusa Kotagede. Kolaborasi ini menghadirkan ragam produk jamu lokal yang dikembangkan melalui pendampingan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan. GKR Bendoro menyampaikan apresiasi atas konsistensi PKKH dalam memberdayakan UMKM dan desa binaan, yang dinilai berperan penting dalam memperkuat ekosistem jamu dan wellness tourism di Yogyakarta.
Tidak hanya menampilkan produk, PKKH juga menyediakan edukasi melalui platform MOOC (Massive Open Online Course) yang menawarkan materi pembelajaran daring terkait wellness untuk kebugaran dan kewirausahaan herbal. Pengunjung dapat mengakses video edukasi, mengikuti kuis, dan memperoleh kesempatan mendapatkan hadiah. Upaya ini sejalan dengan Pergub DIY No. 32, yang menekankan pentingnya penguatan kapasitas pelaku wellness tourism melalui konten edukasi digital yang mudah dijangkau.
Keterlibatan PKKH dalam kegiatan ini memberikan kontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di antaranya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi kesehatan berbasis riset, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan MOOC yang inklusif dan dapat diakses publik, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pemberdayaan UMKM jamu dan pengembangan wirausaha herbal, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Menurut M. Adlil Haq, Project Manager JCWT 2025, rangkaian kegiatan tahun ini merupakan penyelenggaraan ketiga dan berlangsung setiap hari Sabtu sepanjang bulan November. Tema minggu ketiga dipilih untuk menonjolkan potensi besar Yogyakarta dalam ranah spiritual wellness dan energy healing, sekaligus memperkuat posisi kota ini sebagai pusat pengembangan wellness tourism nasional.
Melalui partisipasi dalam JCWT 2025, PKKH FK-KMK UGM menunjukkan komitmen berkelanjutan untuk mengintegrasikan riset ilmiah, tradisi herbal, kebijakan daerah, dan inovasi digital dalam pengembangan pariwisata kesehatan. Peran aktif ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota yang tidak hanya kaya budaya, tetapi juga sebagai pusat inspirasi dalam pengembangan wellness tourism Indonesia. (Kontributor: Siti Maisah Hanani).




