FK-KMK UGM. Pusat Kedokteran Tropis (PKT), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan program edukasi publik dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS). Kegiatan ini dikemas dalam bentuk podcast bertajuk TropmedTalk episode ke-37 yang menghadirkan pakar pediatri sekaligus Direktur Zero TB Yogyakarta, dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A(K). Materi edukasi tersebut dipublikasikan secara luas melalui Kanal YouTube Tropmeducation pada hari Sabtu, 4 April 2026. Podcast ini guna memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat mengenai bahaya laten penyakit Tuberkulosis (TBC) yang saat ini masih menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus global.
- Rina memaparkan fakta krusial bahwa TBC merupakan ancaman serius dengan angka kematian yang mencapai 12 hingga 14 jiwa setiap jamnya di Indonesia. Ia menegaskan bahwa penyakit ini sama bahayanya dengan COVID-19, namun karena sifatnya yang kronis dan telah ada sejak lama, masyarakat cenderung kurang waspada. Karakteristik kuman TBC yang membutuhkan waktu 4 hingga 12 minggu untuk berkembang menjadi gejala klinis seringkali menyebabkan keterlambatan deteksi. Kondisi ini diperparah dengan estimasi kasus di Indonesia yang mencapai 1.090.000 jiwa, sebuah angka yang menunjukkan peningkatan signifikan sekaligus mencerminkan perbaikan dalam sistem penemuan kasus aktif di lapangan.
Tantangan dalam pengendalian TBC di Indonesia tidak hanya datang dari aspek medis, tetapi juga faktor sosiologis dan geografis. Dr. Rina menyoroti adanya ketimpangan akses layanan kesehatan antarwilayah serta stigma negatif yang masih melekat kuat di masyarakat. Banyak individu yang enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan atau kehilangan pekerjaan akibat diagnosis TBC, padahal keterlambatan penanganan justru memperluas rantai penularan. Sebagai solusi, ia mengusung strategi search, treat, and prevent yang mencakup penemuan kasus aktif (active case finding), pengobatan tuntas, serta terapi pencegahan bagi kelompok berisiko. Strategi ini ditegaskan tidak akan mencapai hasil maksimal jika hanya mengandalkan sektor kesehatan tanpa dukungan lintas sektor dari pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Menutup pemaparannya, dr. Rina mengapresiasi inovasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang telah mendistribusikan rontgen portabel untuk menjangkau daerah terpencil. Inovasi ini, ditambah dengan rencana layanan One Stop Service (OSS) yang mengintegrasikan skrining TBC dengan Cek Kesehatan Gratis, diharapkan mampu mempercepat eliminasi TBC pada tahun 2030. Masyarakat diimbau untuk proaktif memeriksakan gejala batuk lebih dari dua minggu dan memahami bahwa TBC bukanlah penyakit keturunan serta dapat disembuhkan total melalui pengobatan yang disiplin.
Kegiatan edukasi melalui podcast ini selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya menurunkan angka kematian akibat penyakit menular dan mencapai target eliminasi tuberkulosis nasional, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan akses informasi dan edukasi kesehatan yang berbasis bukti ilmiah bagi masyarakat luas melalui media digital, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui dorongan untuk pemerataan akses layanan kesehatan dan penghapusan stigma sosial terhadap penderita TBC, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dengan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan komunitas dalam menciptakan ekosistem penanggulangan penyakit. (Kontributor: Muhammad Ali Mahrus).



