FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM berkolaborasi dengan FRIENDSHIP Indonesia dan Southeast Asian Regional Association for Medical Education menyelenggarakan kegiatan The International Webinar Series to Commemorate the 80th Anniversary, pada (19/2). Adapun tema yang diangkat pada kegiatan ini ialah “The Future of Medical and Health Profession Education” dengan tujuan untuk memberikan refleksi kritis program pendidikan kedokteran sesuai dengan dinamika perkembangan zaman. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring menggunakan platform Zoom dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, selaku Dekan FK-KMK UGM. Prof. Yodi menjelaskan bahwa pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan merupakan ruang refleksi yang akan selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dalam muatan kurikulumnya. Selain itu, Prof. Yodi menekankan bahwa pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan perlu saling terintegrasi untuk menciptakan sistem yang berkeadilan.
“Sistem yang terintegrasi dari pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan penting untuk dijaga dan dikembangkan sesuai kebutuhan zaman. Hal ini perlu diperjuangkan dengan tujuan untuk menjadikan kurikulum tidak hanya berimplikasi pada teknologi, tetapi juga perlu menyasar empati, humanisme, dan suara dari peserta didik,” kata Prof. Yodi.
Kemudian, kegiatan ini dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Prof. Avinash Supe selaku Post Graduate Medical Education (PGME) Committee WFME India. Adapun materi yang disampaikan ialah “Global Trend and Challenge in Medical and Health Profession Education”. Prof. Avinash menyampaikan bahwa pendidikan di bidang kesehatan dalam skala global mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan market value USD 40 billion pada tahun 2025, proyek pengembangannya hingga USD 72 billion sampai 2034. Prof. Avinash menegaskan bahwa kondisi ini perlu diimbangi dengan tersedianya tenaga kesehatan yang terlatih sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu, Prof. Avinash juga menekankan bahwa kurikulum pendidikan kesehatan secara berkelanjutan harus mempertimbangkan Student Well-Being, Interprofessional Education Barriers, Equality, Diversity, and Inclusion Challenges untuk menunjang konektivitas tren kinerja kesehatan di skala global.
“Pada masa ini, trend pendidikan kesehatan yang sedang dibutuhkan ialah, kurikulum yang aplikatif pada perkembangan teknologi dan pengintegrasian pada AI, penerapan metode pembelajaran secara hybrid dan fleksibel, serta, simulasi pendidikan langsung berbasis praktik integratif,” kata Prof. Avinash
Pemaparan materi kedua disampaikan oleh Prof. dr. Ova Emilia, M.Med. Ed., Sp.OG (K), Ph.D selaku Rektor of Universitas Gadjah Mada. Adapun materi yang disampaikan berjudul “The Response of Medical and Health Profession Education Institutions for Future Use of Medical Mixed Reality”. Prof. Ova menjelaskan bahwa paradigma pendidikan kesehatan pada masa kini lebih cenderung pada mixed reality, yang memiliki arti bahwa pendidikan kesehatan perlu mengkombinasikan elemen digital dan fisik. Melalui paradigma tersebut, Prof. Ova menekankan pentingnya komitmen pendidikan kesehatan untuk dapat berjalan pada penyesuaian dengan teknologi, kolaborasi kurikulum di skala global, dan penggunaan data tracking yang kompeten dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Pendidikan kesehatan pada masa kini cenderung bergerak pada karakteristik kunci secara merged real and digital world, digital object interacts with the real world, dan greater contextual awareness than AR,” kata Prof. Ova.
Pemaparan materi ketiga disampaikan oleh Prof. Simone Gibson selaku Director of Education, School of Clinical Sciences and Director, Monash Centre for Scholarship in Health Education, Faculty of Medicine, Nursing and Health Sciences Australia. Adapun materi yang disampaikan ialah, “Student Assessment in Competency-based Medical and Health Profession Education”. Prof. Simone menegaskan assessment education merupakan elemen penting dalam menunjang mutu kualitas dari dampak pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan itu sendiri. assessment education bagi Prof. Simone merupakan bentuk pemahaman yang bertahap bermula dari penilaian pembelajaran (assessment of learning), pembelajaran (assessment as learning), dan sebagai pembelajaran (assessment for learning).
“Assessment pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan menilai tolak ukur keberhasilan proses pendidikan, hal ini dapat terjadi dikarenakan keberadaan assessment penting untuk memahami kompetensi basic dan relasinya dalam memberikan evaluasi pengaruh pendidikan,” kata Prof. Simone.
Pemaparan materi keempat disampaikan oleh Prof. Harm Peters selaku President Association of Medical Schools in Europe (AMSE) sekaligus Professor in Medical Education and Nephrology at Charité, Universitätsmedizin Berlin. Adapun materi yang disampaikan ialah, “Competency-based Medical and Health Professions: Experiences in Europe”. Prof. Peters memberikan pemaparan perbandingan orientasi pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan di Eropa dan Asia. Dari perspektif Eropa, pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan berkomitmen pada inisiatif dan keberlanjutan dengan berkolaborasi secara profesional dengan pemerintah dan organisasi non-pemerintah untuk memperkuat penelitian tentang kesehatan.
Selain itu, Prof. Peters juga menegaskan bahwa di Eropa orientasi pendidikan cenderung untuk berbagi pengetahuan, research, dan manajemen kesehatan. Sedangkan, di Asia memberikan perspektif yang cukup berbeda dikarenakan bermuara pada kondisi sosiologis. Pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan di Asia cenderung mengupayakan orientasi masa depan dengan berfokus pada penguatan kapasitas fakultas penyelenggara pendidikan, kolaborasi dengan mitra kesehatan, penyesuaian pada kondisi penyakit, dan yang terbaru, adaptasi AI.
“Perbedaan orientasi antara Eropa dan Asia ini dapat dikoneksikan melalui kolaborasi teoritis dan inovatif yang saling terintegrasi dengan tujuan untuk memberikan penguatan kapasitas institusi dan keberlanjutan dampak sosial yang luas,” kata Prof. Peters.
Kegiatan turut mendukung komitmen pada Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya, integrasi SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kualitas dan dampak pendidikan kesehatan dan profesi kesehatan yang berorientasi pada empati, kemanusiaan, dan kepedulian pada peserta didik. Serta, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dengan menekankan kerja sama internasional untuk menguatkan kualitas dan kapasitas pendidikan kesehatan dan pendidikan profesi kesehatan (Reporter/Tedy).



