FK-KMK UGM Selenggarakan Scientific Discussion Forum tentang Tantangan Ventilasi Neonatal dalam Praktik Anestesi

FK-KMK UGM. Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bersama RSUP Dr. Sardjito menyelenggarakan Scientific Discussion Forum bertajuk “Neonatal Ventilation in Anesthesia Practice: Clinical and Technical Perspective”. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 26 Februari 2026, di Gedung Diklat Lantai 4 RSUP Dr. Sardjito ini menghadirkan kolaborasi strategis bersama Dräger, perusahaan global penyedia alat dan mesin anestesi. Forum tersebut diikuti oleh residen program pendidikan subspesialis tingkat 1 dan 2, perawat anestesi, serta penata anestesi di lingkungan RSUP Dr. Sardjito.

Pada sesi pertama, Prof. Dr. dr. Yunita Widyastuti, M.Sc., Sp.An-TI, Subsp.T.I(K), Ph.D membawakan materi berjudul “Anesthetic Challenges in Tracheoesophageal Fistula and Congenital Diaphragmatic Hernia.” Dalam paparannya, Prof. Yunita menjelaskan bahwa penanganan anestesi pada neonatus dengan fistula trakeoesofageal maupun hernia diafragmatika kongenital membutuhkan strategi ventilasi yang sangat hati-hati. Stabilitas respirasi pasien harus dijaga secara optimal agar tidak memperburuk kondisi anatomis maupun meningkatkan risiko komplikasi selama tindakan operasi berlangsung.

Perspektif teknis kemudian dipaparkan oleh Hans Ulrich Schueler selaku Lead Engineer Dräger melalui materi “Ventilation Strategies in Neonatal Anesthesia: International Technical Perspectives & NO Delivery and Anesthesia.” Ia menjelaskan berbagai perkembangan teknologi ventilator neonatal, termasuk optimalisasi pengaturan ventilasi dan pemanfaatan nitric oxide (NO) dalam mendukung fungsi respirasi pasien neonatal. Paparan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana inovasi teknologi medis mampu mendukung pengambilan keputusan klinis secara lebih akurat dan aman.

Sementara itu, Jared Ng sebagai Business Development Manager Dräger membawakan materi mengenai “Interoperability in the Operating Room.” Ia menekankan pentingnya integrasi antarperangkat medis di ruang operasi agar sistem kerja menjadi lebih efisien, responsif, dan aman bagi pasien. Konsep interoperabilitas dinilai semakin relevan di era modern, terutama ketika berbagai alat medis harus mampu terhubung dan bekerja dalam satu sistem pelayanan yang terkoordinasi.

Meskipun kegiatan dilaksanakan di tengah bulan Ramadan, antusiasme peserta tetap tinggi. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan kritis mengenai tantangan ventilasi neonatal dalam praktik sehari-hari. Beragam pengalaman klinis yang dibagikan peserta turut memperkaya pembahasan, khususnya terkait penanganan pasien pediatrik dengan kondisi kongenital kompleks.

Kegiatan ini juga mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kualitas pelayanan anestesi dan keselamatan pasien neonatal. Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pendidikan kedokteran berkelanjutan bagi tenaga kesehatan. Kolaborasi antara institusi akademik dan industri kesehatan dalam kegiatan ini juga mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui pengembangan jejaring strategis dalam peningkatan mutu layanan kesehatan dan pendidikan medis. (Kontributor: dr. Anggita Fatwa, Sp. An-TI).