FK-KMK UGM. Departemen Radiologi menyelenggarakan Annual Scientific Meeting (ASM) 2026 bertajuk “Seeing Beyond the Injury: Multimodality Imaging in Trauma Management – Detect Early, Decide Precisely, Deliver Better Outcomes”. Kegiatan ilmiah ini menjadi wadah bagi akademisi, dokter spesialis radiologi, klinisi, peserta didik, serta mahasiswa untuk memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kompetensi dalam pemanfaatan pencitraan multimodalitas pada penanganan kasus trauma.
Rangkaian kegiatan berlangsung pada 24–25 April 2026 di lingkungan FK-KMK UGM. Selama dua hari penyelenggaraan, ASM 2026 menghadirkan workshop, simposium ilmiah, serta kompetisi e-poster yang diikuti oleh 303 peserta yang terdiri atas profesor, dokter konsulen, dokter umum, dokter residen, hingga mahasiswa kedokteran. Kegiatan ini juga menghadirkan pembicara nasional dan internasional sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi akademik sekaligus memperluas jejaring keilmuan di bidang radiologi.
Mengangkat tema mengenai pentingnya pencitraan multimodalitas dalam penanganan trauma modern, ASM 2026 menekankan bahwa diagnosis yang cepat dan akurat menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan luaran pasien. Berbagai perkembangan teknologi pencitraan medis, mulai dari ultrasonografi, CT scan, hingga MRI, dipaparkan sebagai instrumen yang saling melengkapi dalam mendukung pengambilan keputusan klinis secara lebih presisi.
Agenda hari pertama diawali dengan pelaksanaan workshop yang berfokus pada peningkatan keterampilan praktis peserta melalui pendekatan hands-on. Workshop dibagi ke dalam dua kelompok utama, yaitu Musculoskeletal Ultrasound yang mencakup pemeriksaan bahu, siku, dan pergelangan kaki, serta Basic Ultrasound yang membahas ultrasonografi abdomen dasar dan lanjutan, kepala-leher, serta payudara.
Workshop semakin memperkaya wawasan peserta dengan kehadiran sejumlah pakar radiologi dari Singapura, yaitu dr. Glen Ong dan dr. Candice Leong dari Tan Tock Seng Hospital, serta dr. James Hallinan dan dr. Ting Yonghan dari National University Hospital. Mereka berbagi pengalaman mengenai perkembangan terkini pencitraan muskuloskeletal dan radiologi trauma. Selain itu, sejumlah dosen Departemen Radiologi FK-KMK UGM juga menjadi instruktur, di antaranya dr. Bestari Ariningrum, Sp.Rad., M.Si.Med., dr. Devina Yudistiarta, M.Med.Sc., Sp.Rad., dr. Dito Pondra Dharma, M.Med.Sc., Sp.Rad., dr. Kristianto Budi Wibowo, Sp.Rad., dan dr. Randy Harry, M.Ked.(Rad.), Sp.Rad., yang mendampingi peserta selama sesi praktik.
Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan simposium yang diselenggarakan di Auditorium FK-KMK UGM. Simposium dibuka oleh Dr. dr. Bambang Supriyadi, Sp.Rad., Subsp.MSK(K)., M.M. melalui paparan mengenai peran strategis pencitraan muskuloskeletal dalam membentuk masa depan pelayanan trauma.
Sesi pertama simposium mengangkat tema Early Assessment and Special Population dengan moderator dr. Naela Himayati, Sp.Rad., M.Sc. Pada sesi ini, dr. Ting Yonghan membahas prinsip dasar pencitraan trauma menggunakan berbagai modalitas serta tantangan dalam pemeriksaan pasien anak. Selanjutnya, dr. James Hallinan memaparkan pemanfaatan CT scan dan MRI pada cedera tulang belakang melalui pendekatan penilaian yang terstruktur. Perspektif klinis turut melengkapi diskusi melalui paparan Dr. dr. Hilmi Muhammad, Sp.OT., Subsp.A(K) mengenai tanda bahaya pada trauma anak yang perlu dikenali oleh klinisi maupun radiolog.
Sementara itu, sesi kedua mengangkat tema Soft Tissue and Overuse Injury yang dipandu oleh dr. Amri Wicaksono Pribadi, Sp.Rad., M.Sc. Dr. Glen Ong menjelaskan keunggulan dan keterbatasan MRI maupun ultrasonografi dalam mengevaluasi cedera jaringan lunak. Dr. Candice Leong kemudian membahas peran pencitraan pada cedera akibat penggunaan berulang (overuse injury), mulai dari reaksi stres hingga fraktur stres. Perspektif klinis mengenai interpretasi temuan MRI pada cedera jaringan lunak disampaikan oleh dr. Muhammad Ikhwan Zein, Sp.KO., Subsp.A.L.K(K)., Ph.D. berdasarkan pengalaman praktik di Amsterdam UMC.
Selain sesi ilmiah, ASM 2026 juga menjadi ajang kompetisi e-poster yang diikuti oleh 67 peserta dari kalangan dokter umum, dokter residen, dan mahasiswa kedokteran. Kompetisi ini menjadi media bagi peserta untuk mempresentasikan hasil penelitian, tinjauan pustaka, maupun laporan kasus yang menarik melalui penyajian visual yang informatif. Pada kompetisi tersebut, delegasi FK-KMK UGM kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara II melalui karya dr. Made Vidyasti Laksita Wijaya berjudul “Radiological Red Flag: CTA Findings in Compartment Syndrome Following Complex Forearm Trauma”. Sementara Juara III diraih oleh dr. I Gede Eka Widayana, Residen Radiologi FK-KMK UGM, melalui karya “Silent but Severe: A Radiographically Occult Denis Zone III Sacral Fracture as a Diagnostic Pitfall Revealed by MSCT”.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam penanganan trauma berbasis pencitraan yang akurat. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop, simposium, dan kompetisi ilmiah untuk meningkatkan kapasitas akademik. SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur didukung melalui pemanfaatan teknologi pencitraan medis yang inovatif dalam praktik klinis. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dengan National University Hospital dan Tan Tock Seng Hospital, Singapura, dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pelayanan radiologi. (Kontributor: dr. Safira Nur Askarina, dr. Rizki Hafidzah Baswedan, dan dr. Naela Himayati Afifah, M.Sc, Sp.Rad).




