FK-KMK UGM Perkuat Respons Kebencanaan Berbasis Evidence untuk Kelompok Geriatri

FK-KMK UGM. Divisi Manajemen Bencana Kesehatan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Kebutuhan Penyintas Geriatri Dalam Situasi Bencana Tantangan Strategi dan Kebijakan Berbasis Evidence sebagai bagian dari rangkaian Annual Scientific Meeting 2026 yang mengusung tema Embracing Ageing. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid bekerja sama dengan KAGAMADOK dan menghadirkan akademisi, praktisi klinis, serta pemangku kepentingan kebencanaan untuk membahas kebutuhan kelompok lansia dalam konteks krisis kesehatan. Seminar diselenggarakan pada Sabtu, 7 Februari 2026, dengan partisipasi peserta dari berbagai institusi layanan kesehatan dan organisasi kemanusiaan.

Dalam pembukaan, moderator Vina Yulia Anhar, SKM, MPH menekankan bahwa Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana tinggi yang berdampak signifikan pada kelompok rentan, terutama populasi geriatri. Lansia memiliki keterbatasan fisiologis, komorbiditas, ketergantungan obat, serta kebutuhan layanan kesehatan berkelanjutan sehingga memerlukan pendekatan khusus dalam sistem penanggulangan bencana.

Materi pertama disampaikan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid yang memaparkan konsep risiko sebagai interaksi antara ancaman, keterpaparan, dan kerentanan yang dapat menimbulkan kerugian jiwa maupun sosial ekonomi. Ia menegaskan bahwa lansia kerap menjadi kelompok yang terabaikan dalam fase tanggap darurat. Untuk memastikan intervensi tepat sasaran, diperlukan estimasi jumlah populasi lansia terdampak, salah satunya melalui pemanfaatan kalkulator PPAM Kementerian Kesehatan RI. Selain itu, ia menjelaskan bahwa regulasi terbaru melalui Permenkes Nomor 1 Tahun 2026 telah mengatur posisi lansia dalam klaster kesehatan, termasuk pedoman layanan minimum kesehatan lanjut usia pada krisis kesehatan serta komponen kit lansia yang harus dipersiapkan.

Materi kedua disampaikan oleh dr. Sarly Puspita Ariesa, Sp.PD, Subsp.Ger (K), FINASIM yang mengulas peningkatan populasi lansia seiring bertambahnya usia harapan hidup di Indonesia. Ia memaparkan kerentanan lansia meliputi penurunan mobilitas, gangguan sensorik, penyakit kronis, serta hambatan akses informasi dan evakuasi. Pendekatan yang direkomendasikan mencakup bio-psiko-sosial-spiritual, menjaga fungsi dan martabat lansia, serta memastikan kesinambungan layanan sebelum, saat, dan setelah bencana. Ia juga menyoroti perlunya penguatan kebijakan lintas sektor agar sistem kebencanaan nasional semakin inklusif terhadap kelompok rentan.

Kegiatan ini berkontribusi pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui penguatan sistem layanan kesehatan yang responsif bagi lansia dalam krisis, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dicerminkan melalui upaya perlindungan kelompok rentan agar memperoleh akses layanan setara, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan relevan melalui penguatan ketangguhan sistem kebencanaan yang inklusif, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diimplementasikan melalui kolaborasi akademisi, praktisi, pemerintah, dan organisasi profesi dalam memperkuat kebijakan dan praktik penanggulangan bencana berbasis bukti. (Kontributor: Alif Seswandhana).