FK-KMK UGM. Departemen Kesehatan Masyarakat, Gizi, Keperawatan, Pendidikan Kedokteran dan Bioetika FK-KMK UGM menyelenggarakan Workshop Co-Design bersama Kader Lansia Desa Kuningan pada Sabtu, 6 Juni 2026, di Ruang Kelas U.25 A–B Gedung Tahir Lantai 2 Sayap Utara FK-KMK UGM. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi untuk menggali pengalaman, kebutuhan, tantangan, serta bentuk dukungan yang diperlukan kader dalam memperkuat edukasi kesehatan bagi lansia dan masyarakat Desa Kuningan.
Sesi pertama bertema “Identifikasi Kebutuhan Penyampaian Materi Edukasi Kesehatan oleh Kader” difasilitasi Azam David Saifullah, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D., bersama Ade Sutrimo, S.Kep., Ns., MSN., Sp.Kep.J., Amalia Maysarah, S.Tr.KL., MPH, Dr. Fitrina M. Kusumaningrum, SKM., MPH, dan Anindita Primasanti Sugito. Melalui diskusi kelompok, kader merefleksikan pengalaman dalam menyampaikan informasi kesehatan, memetakan materi yang telah diterima, serta mengidentifikasi kebutuhan edukasi masyarakat.
Berbagai materi yang telah diberikan kepada kader meliputi kesehatan lansia, gizi, penyakit tidak menular, hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, demensia, kesehatan gigi dan mulut, TBC, DBD, hingga pencegahan stunting. Kader juga memperoleh pembekalan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, pengelolaan sampah, pengelolaan emosi, caregiver lansia, dukungan keluarga, kemandirian lansia, serta pendampingan lansia tirah baring.
Dalam diskusi, kader mengidentifikasi sejumlah kebutuhan edukasi yang masih perlu diperkuat, seperti penyakit ginjal dan paru, dampak rokok, asam lambung, kesehatan jiwa, stres, kecemasan, gangguan tidur, serta pengenalan gejala penyakit sejak dini. Kebutuhan lainnya mencakup informasi BPJS, kepatuhan minum obat, kontrol rutin, akses alat bantu, komunikasi dengan lansia, pertolongan pertama pada stroke, perawatan lansia tirah baring, penanganan luka, hingga pendampingan lansia yang hidup sendiri.
Kader juga menekankan pentingnya pelatihan keterampilan praktis, seperti public speaking, pengelolaan rasa gugup, penggunaan poster dan leaflet, komunikasi saat kunjungan rumah, pertolongan pertama, bantuan hidup dasar, serta perawatan luka pada pasien diabetes. Sejumlah materi, termasuk demensia, gangguan tidur, kecemasan, gizi, caregiver, kepatuhan minum obat, bahaya merokok, serta kesehatan jantung dan paru, dinilai perlu disampaikan secara berulang melalui posyandu lansia, kunjungan rumah, dan kegiatan masyarakat.
Melalui pendekatan co-design, kader ditempatkan sebagai mitra dalam menentukan materi, media, dan metode edukasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Hasil workshop menjadi dasar pengembangan program dan pelatihan agar kader semakin percaya diri dalam menyampaikan informasi kesehatan, mendampingi lansia, serta membantu masyarakat mengenali masalah kesehatan dan mengakses layanan yang tepat.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit berbasis masyarakat. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader secara berkelanjutan. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan didukung melalui pengembangan edukasi kesehatan yang inklusif dan sesuai kebutuhan masyarakat. (Kontributor: Fadliana H R U Hasanah, S.Tr.Keb., Bdn, MHPM, Jihan Muna Syahidah).



