FK-KMK UGM Perkuat Kolaborasi Riset Tifoid melalui Audiensi Studi STEVIA di Klaten

FK-KMK UGM. Pusat Kajian Kesehatan Anak (PKKA-PRO), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan audiensi dalam rangka penguatan implementasi riset kesehatan bertajuk Serosurveillance for Typhoid Infection in Indonesia (STEVIA). Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengunjungi dua rumah sakit di Kabupaten Klaten sebagai mitra dalam pengembangan penelitian penyakit menular. Audiensi berlangsung pada Kamis, 2 April 2026, dengan lokasi kegiatan di RSUD Bagas Waras dan RSU PKU Muhammadiyah Delanggu, serta melibatkan tim peneliti dan tenaga medis dari kedua institusi dalam upaya memperkuat sistem surveilans demam tifoid di Indonesia.

Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Tim Peneliti PKKA-PRO FK-KMK UGM, Dr. dr. Rr. Ratni Indrawanti, Sp.A(K), yang bersama tim melakukan diskusi intensif terkait rencana implementasi studi STEVIA. Di RSUD Bagas Waras, rombongan disambut oleh Plt. Direktur rumah sakit beserta jajaran manajemen, sementara di RSU PKU Muhammadiyah Delanggu, tim disambut oleh dr. Vita Susianawati, M.Sc., Sp.A dan tenaga medis setempat. Pertemuan berlangsung dalam suasana kolaboratif yang menekankan pentingnya sinergi antara institusi akademik dan fasilitas layanan kesehatan.

Urgensi penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan dalam diagnosis demam tifoid di Indonesia. Metode baku berupa kultur darah masih menghadapi keterbatasan, baik dari sisi sensitivitas maupun aksesibilitas, terutama akibat penggunaan antibiotik yang luas di masyarakat. Studi STEVIA dirancang untuk menjawab tantangan tersebut dengan mengevaluasi penggunaan penanda serologis serta uji berbasis sel T (IGRA) yang lebih inovatif. Penelitian ini melibatkan pasien rawat inap usia 2 hingga 46 tahun sebagai kelompok sasaran untuk memperoleh gambaran epidemiologi yang lebih komprehensif.

Selama audiensi, tim juga melakukan peninjauan fasilitas rumah sakit, termasuk laboratorium patologi klinik, ruang rekam medis, serta bangsal perawatan pasien. Diskusi teknis mengenai kelayakan penelitian menjadi fokus utama, termasuk kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, serta prosedur operasional penelitian. Selain itu, rencana integrasi analisis Whole-Genome Sequencing (WGS) untuk memetakan resistensi antimikroba turut dibahas sebagai bagian dari pendekatan ilmiah berbasis teknologi.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan sistem deteksi dan pengendalian penyakit menular seperti demam tifoid, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dari proses pertukaran ilmu pengetahuan dan peningkatan kapasitas tenaga medis melalui kolaborasi penelitian, SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi diagnostik dan analisis genomik dalam penelitian kesehatan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi erat antara institusi akademik dan fasilitas layanan kesehatan dalam mengembangkan riset yang berdampak luas. (Kontributor: Nanda Tri Rahmatika, Dhimas Sholikhul Huda).