FK-KMK UGM Perkuat Kebijakan Imunisasi Anak melalui Diseminasi Penelitian Vaksin Rotavirus Dosis Lahir

FK-KMK UGM. Pusat Kajian Kesehatan Anak (PKKA-PRO), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan diseminasi hasil penelitian Rotavirus Birth Dose Vaccine Assessment pada 9–10 Februari 2026. Acara ini digelar secara hybrid pada Selasa, 10 Februari 2026, di Menara Caraka, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, dan melalui Zoom Meeting, sehingga memungkinkan partisipasi luas dari pemangku kepentingan nasional dan mitra pembangunan. Kegiatan ini bertujuan memperkuat arah kebijakan imunisasi nasional, khususnya terkait rencana introduksi vaksin rotavirus dosis lahir untuk bayi baru lahir di Indonesia.

Rotavirus masih menjadi penyebab utama gastroenteritis berat pada anak dan kontribusi signifikan terhadap kematian anak di Indonesia. Pemerintah telah memulai imunisasi RV untuk bayi usia 2, 3, dan 4 bulan sejak 2023, dan berencana memperkenalkan vaksin RV3-BB dosis lahir pada usia 0–5 hari, dilanjutkan pada 8 dan 14 minggu. Praktik pemberian Hepatitis B dosis lahir (Hb0) menjadi peluang integrasi layanan imunisasi sejak bayi baru lahir, meskipun tantangan seperti disparitas cakupan antarwilayah, kesiapan logistik, integrasi pelayanan, dan penerimaan masyarakat masih perlu diatasi.

Penelitian ini dilakukan pada Agustus–November 2025 oleh tim PKKA-PRO UGM bekerja sama dengan Clinton Health Access Initiative (CHAI) di empat provinsi, delapan kabupaten/kota, dan 16 puskesmas. Tim penelitian terdiri dari sembilan anggota PKKA-PRO dan tujuh perwakilan CHAI Indonesia yang bertugas dalam pengumpulan data, analisis kebijakan, dan penyusunan rekomendasi berbasis bukti. Hasil penelitian mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat implementasi imunisasi RV dan Hb0 pada berbagai tingkat layanan kesehatan serta memetakan kesiapan sistem untuk pengenalan vaksin RV dosis lahir secara nasional.

Diseminasi ini dihadiri jajaran pejabat dan perwakilan unit teknis Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, pakar, serta mitra pembangunan dan lembaga internasional, termasuk UNICEF, WHO, UNDP, Save the Children, PATH, DFAT, GAVI, serta Direktur Utama PT Bio Farma. Acara meliputi registrasi, pembukaan, pemaparan hasil penelitian, dua sesi diskusi, dan perumusan tindak lanjut kebijakan. Diskusi menekankan penguatan sistem layanan kesehatan, kesiapan rantai pasok vaksin, strategi komunikasi publik, dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui edukasi dan pelatihan berkelanjutan.

Pelaksanaan kegiatan ini selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya menurunkan angka kematian anak dengan memperluas cakupan imunisasi rotavirus sejak lahir, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan melalui pelatihan, pembelajaran berbasis bukti, dan diseminasi hasil penelitian, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui dukungan produksi vaksin dalam negeri serta transformasi digital kesehatan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi multipihak antara pemerintah, akademisi, organisasi profesi, industri, dan lembaga internasional. (Kontributor: Adzilla Fikria, Dhimas Sholikhul Huda.).