FK-KMK UGM. Departemen Dermatologi dan Venereologi berkontribusi dalam penguatan kapasitas masyarakat untuk mengenali penyakit kulit menular melalui Workshop Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Deteksi Dini Skabies oleh Tenaga Nonmedis. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian bakti sosial PIT PERDOSKI XXI Yogyakarta 2026 yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini skabies di lingkungan komunitas, khususnya di kalangan pesantren. Workshop dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin–Rabu, 13–15 Juli 2026, dengan dr. Dyahlokita Swastyastu, M.Med.Sc., Sp.D.V.E., sebagai fasilitator.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta dari berbagai pesantren mendapatkan pembekalan mengenai pengenalan awal skabies dan gejala yang perlu diwaspadai. Materi disusun untuk membantu peserta memahami karakteristik penyakit tersebut serta mengenali kondisi yang mengarah pada dugaan kasus skabies. Pengetahuan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi tenaga nonmedis untuk melakukan pengamatan awal dan mendorong warga yang mengalami gejala agar memperoleh pemeriksaan serta penanganan dari tenaga kesehatan.
Peran tenaga nonmedis menjadi penting karena mereka berinteraksi langsung dengan anggota komunitas dalam aktivitas sehari-hari. Di lingkungan pesantren, kemampuan mengenali gejala awal dapat membantu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penularan. Meski demikian, deteksi awal oleh tenaga nonmedis tetap perlu dipahami sebagai langkah pengenalan dan edukasi, bukan pengganti pemeriksaan maupun diagnosis oleh tenaga kesehatan profesional.
Selain pengenalan gejala, workshop ini membahas peran tenaga nonmedis dalam menyampaikan informasi kesehatan secara tepat. Komunikasi yang jelas dan mudah dipahami diperlukan agar informasi mengenai skabies dapat diterima dengan baik, termasuk mengenai pentingnya mengenali gejala, menjaga kebersihan, serta mencari bantuan tenaga kesehatan ketika ditemukan dugaan kasus. Pembekalan tersebut juga diharapkan membantu peserta menyampaikan edukasi tanpa menimbulkan stigma terhadap orang yang mengalami keluhan kulit.
Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh memberikan kesempatan bagi peserta dari berbagai pesantren untuk mengikuti kegiatan tanpa harus hadir secara langsung di lokasi yang sama. Melalui format ini, penyampaian materi dapat menjangkau komunitas yang menjadi sasaran kegiatan sekaligus menyediakan ruang pembelajaran bagi tenaga nonmedis untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam mengenali masalah kesehatan di lingkungan mereka.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan edukasi dan upaya pencegahan penyakit menular. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan pembelajaran kesehatan yang mendukung peningkatan kapasitas peserta. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. (Kontributor: Anggit Mora Cita Harahap, Nur Aida Oktasari, Wega Wisesa Setiabudi).




