FK-KMK UGM. Manajemen Bencana Kesehatan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar bertajuk “Laporan Terkini: Manajemen Operasional Respon Banjir Aceh Utara” sebagai bagian dari upaya penguatan ketahanan kesehatan nasional dalam merespons bencana hidrometeorologi. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring dan menjadi ruang berbagi pembelajaran lintas sektor terkait pengalaman lapangan penanganan bencana banjir di Aceh Utara. Webinar tersebut dilaksanakan pada Senin, 12 Januari 2026, dan diikuti oleh 84 peserta melalui Zoom serta 101 peserta melalui kanal YouTube, yang terdiri atas akademisi, praktisi kesehatan, dan pemangku kebijakan.
Latar belakang kegiatan ini tidak terlepas dari krisis kemanusiaan yang melanda Provinsi Aceh pada pertengahan November 2025 akibat bencana hidrometeorologi masif yang berdampak pada 18 kabupaten/kota. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 31 Desember 2025, bencana tersebut mengakibatkan 572 korban jiwa dan memaksa lebih dari 350 ribu warga mengungsi, dengan wilayah terdampak yang tersebar luas, termasuk Aceh Utara sebagai salah satu daerah dengan dampak paling signifikan.
Sebagai bentuk respons, Pokja Bencana FK-KMK UGM melakukan konsolidasi dengan jejaring Academic Health System UGM yang melibatkan berbagai rumah sakit mitra, antara lain RSUP Dr. Sardjito, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, RSA UGM, RSUD Sleman, RS Mata Dr. YAP, dan RSUD Wates. Respon lapangan dimulai sejak 4 Desember 2025 dengan menugaskan sepuluh gelombang tim medis dan manajerial multidisiplin ke Aceh Utara untuk mendukung pelayanan kesehatan, manajemen bencana, serta pemulihan layanan dasar.
Kegiatan webinar dibuka oleh Vina Yulia Anhar, SKM, MPH, dilanjutkan dengan pengantar dari Sutono, SKp., MKep., M.Sc. selaku Ketua Pokja Bencana FK-KMK UGM. Dalam paparannya, Sutono menekankan bahwa bencana banjir di Aceh memiliki dampak besar terhadap sistem kesehatan, sehingga diperlukan kolaborasi erat antara akademisi dan jejaring layanan kesehatan. Tim yang diturunkan terdiri atas tenaga medis dan nonmedis yang bertugas sesuai kompetensi, mulai dari assessment, dukungan operasional, hingga manajemen layanan kesehatan, termasuk reaktivasi rumah sakit dan puskesmas serta penguatan Health Emergency Operation Center (HEOC).
Materi pertama disampaikan oleh apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid., yang memaparkan laporan manajemen operasional respon banjir Aceh Utara dari tahap persiapan hingga evaluasi pascapenugasan. Ia menjelaskan bahwa Aceh Utara dipilih sebagai lokasi misi karena tingginya dampak bencana, serta menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, organisasi profesi, dan masyarakat setempat. Materi kedua disampaikan oleh Dr. Maidar, M.Kes., selaku PIC HEOC Aceh Utara, yang menguraikan tantangan dan strategi operasional penanganan banjir, termasuk dampaknya terhadap 27 kecamatan dan 19 puskesmas, serta pembelajaran penting untuk penguatan sistem kesiapsiagaan ke depan.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui perlindungan dan pemulihan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penguatan ketahanan sistem kesehatan dalam situasi darurat, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara universitas, pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana secara terpadu. (Kontributor: Alif Seswandhana).




