FK-KMK UGM Perkuat Deteksi Dini Penyakit Melalui Pelatihan Surveilans Air Limbah di Bandung

FK-KMK UGM.  Pusat Kajian Kesehatan Anak – Pediatric Research Office (PKKA-PRO) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan pelatihan penelitian surveilans air limbah (wastewater surveillance/WS) di Bandung sebagai bagian dari penguatan kapasitas deteksi dini penyakit berbasis lingkungan. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 4 Februari 2026 ini menghadirkan kolaborasi antara tim PKKA-PRO FK-KMK UGM, Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat, serta Perusahaan Umum Daerah Tirtawening Kota Bandung. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kesiapan teknis dan koordinasi multipihak dalam implementasi surveilans air limbah yang sistematis dan berkelanjutan, khususnya dalam mendeteksi patogen infeksi dan indikator risiko kesehatan masyarakat.

Surveilans air limbah merupakan pendekatan epidemiologi berbasis lingkungan yang mendeteksi fragmen materi genetik virus atau bakteri (RNA/DNA) yang diekskresikan ke sistem pembuangan air. Metode ini mampu merepresentasikan dinamika transmisi penyakit pada tingkat populasi, termasuk untuk patogen seperti poliovirus, Salmonella Typhi, hingga pemantauan resistensi antimikroba dan zat kimia tertentu. Di Indonesia, inisiatif ini telah dimulai sejak 2004 untuk deteksi polio dan berkembang signifikan selama pandemi COVID-19. Tim peneliti PKKA-PRO FK-KMK UGM sebelumnya melakukan deteksi SARS-CoV-2 pada periode Mei 2021 hingga Juni 2022 serta Salmonella Typhi sejak Oktober 2022 di Yogyakarta. Hasil riset menunjukkan bahwa sinyal SARS-CoV-2 pada air limbah terdeteksi lebih awal dibandingkan peningkatan kasus klinis, sehingga berpotensi menjadi sistem peringatan dini wabah.

Hari pertama pelatihan yang berlangsung di Hotel Ibis Bandung Pasteur diisi dengan pemaparan konsep dasar surveilans air limbah, prinsip pencatatan laboratorium yang baik, persiapan media UPE untuk metode Moore swab, prosedur pengambilan dan pengiriman sampel, hingga simulasi administrasi dan manajemen data. Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., PhD, Sp.A, Subsp.Kardio selaku peneliti utama, bersama perwakilan Labkesda Jawa Barat dan manajemen Perumda Tirtawening Kota Bandung. Pada sesi materi, peserta menekankan pentingnya ketelitian dokumentasi, kesiapan logistik, serta penerapan biosafety dalam seluruh tahapan sampling.

Diskusi interaktif juga mengulas tantangan teknis di lapangan, seperti kondisi saluran terbuka, potensi banjir, penumpukan sampah, serta penyesuaian lokasi saat titik pengambilan sampel kering. Peserta menyepakati standar operasional pembuatan media UPE maksimal dua hari sebelum sampling, pengelolaan masa simpan media, serta pencatatan suhu laboratorium yang telah terkalibrasi. Hari kedua difokuskan pada praktik lapangan, termasuk peninjauan lokasi instalasi pengolahan air limbah, simulasi pengambilan sampel, pengukuran parameter lingkungan, dan penginputan data secara langsung.

Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera karena berkontribusi pada pencegahan dan pengendalian penyakit menular secara lebih responsif. Transfer pengetahuan dan peningkatan kompetensi laboratorium mencerminkan SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pemanfaatan teknologi inovatif seperti nanopore sequencing serta pengembangan infrastruktur surveilans mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan BUMD air minum menunjukkan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam membangun sistem kesehatan masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan. (Kontributor: Shella Syafira Wijayanti, Dhimas Sholikhul Huda.).