FK-KMK UGM. Dosen sekaligus peneliti dr. Meirizal, Sp.O.T.Subsp.T.L.B.M(K), bersama Dr. dr. Rahadyan Magetsari, Sp.O.T.Subsp.Onk.Ort.R(K), dr. Yuni Artha Prabowo P, Sp.O.T.Subsp.Onk.Ort.R(K), dr. Pramudita Angga, dr. Yosafat Budiharjo Santoso Simanungkalit, dan dr. Agung Susilo Lo melaporkan keberhasilan penyelamatan ekstremitas pada pasien dengan myxoid liposarcoma berulang yang disertai infeksi luka kronis. Laporan kasus berjudul “Advanced Limb Salvage Reconstruction Following Complicated Myxoid Liposarcoma Resection Using Hybrid Gastrocnemius Flap and Sub-Flap Irrigating Vacuum Assisted Closure Therapy: A Case Report” tersebut dipublikasikan dalam jurnal JPRAS Open pada tahun 2026 dengan DOI 10.1016/j.jpra.2026.07.038.
Kasus tersebut melibatkan seorang pasien laki-laki berusia 33 tahun dengan myxoid liposarcoma yang mengalami kekambuhan dan infeksi kronis pada area operasi. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam proses penyembuhan karena selain terdapat kehilangan jaringan lunak, luka juga mengalami infeksi yang membutuhkan penanganan secara bertahap.
Hasil pemeriksaan kultur dari luka menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri Acinetobacter baumannii. Berdasarkan hasil tersebut, terapi antibiotik disesuaikan dengan uji sensitivitas untuk memastikan penanganan infeksi dilakukan berdasarkan kondisi mikrobiologis pasien. Pengendalian infeksi menjadi tahap penting sebelum dilakukan rekonstruksi dan penutupan defek jaringan.
Tim kemudian melakukan debridement secara berulang untuk membersihkan jaringan yang mengalami masalah. Proses penyelamatan tungkai dilakukan dengan rekonstruksi menggunakan flap otot gastrocnemius yang dikombinasikan dengan terapi vacuum-assisted closure (VAC) beririgasi. Pendekatan kombinasi tersebut digunakan untuk membantu mengendalikan infeksi sekaligus menangani kehilangan jaringan lunak yang luas akibat proses penyakit dan tindakan sebelumnya.
Setelah kondisi luka terkendali dan jaringan siap untuk ditutup, dilakukan pencangkokan kulit menggunakan split-thickness skin graft. Prosedur tersebut menjadi tahap akhir dalam upaya menutup defek jaringan lunak secara menyeluruh. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa proses rekonstruksi berjalan baik. Pada evaluasi satu tahun, tidak ditemukan infeksi berulang dan defek jaringan lunak telah tertutup secara sempurna.
Flap yang digunakan tetap viabel dan keberhasilan cangkok kulit mencapai 100 persen. Selama evaluasi juga tidak ditemukan tanda-tanda infeksi berulang maupun komplikasi pada luka. Penanda inflamasi menunjukkan perbaikan hingga kembali ke nilai normal, dengan kadar C-reactive protein (CRP) sebesar 12,9 mg/L. Hasil tersebut menunjukkan bahwa strategi penanganan yang dilakukan berhasil mencapai tujuan utama berupa penyelamatan anggota gerak.
Meskipun demikian, kondisi pasien masih menunjukkan nyeri ringan. Fungsi panggul tetap terjaga dengan rentang gerak penuh pada seluruh arah. Pasien juga mampu melakukan ekstensi lutut secara penuh meskipun belum maksimal. Dengan kondisi tersebut, pasien tetap dapat berdiri secara mandiri dan berjalan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kasus ini menunjukkan bahwa penanganan myxoid liposarcoma berulang dengan komplikasi infeksi dan kehilangan jaringan lunak membutuhkan pendekatan yang terencana serta dilakukan secara bertahap. Pengendalian infeksi menjadi bagian penting sebelum rekonstruksi, sementara pemilihan metode flap dan terapi VAC beririgasi memungkinkan penanganan defek jaringan yang kompleks sekaligus mempertahankan ekstremitas.
Penanganan kasus juga melibatkan pendekatan multidisiplin. Selain tim bedah dan rekonstruksi, proses penanganan turut melibatkan konsultasi dengan Tim Tropical Medicine dan Tim Infectious Disease. Kolaborasi tersebut mendukung pengelolaan infeksi sekaligus membantu memastikan setiap tahapan penanganan mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.
Simpulan laporan kasus menunjukkan bahwa kombinasi rekonstruksi flap gastrocnemius dan terapi VAC beririgasi menunjukkan potensi sebagai strategi limb salvage pada kasus kompleks yang melibatkan keganasan jaringan lunak, infeksi kronis, dan kehilangan jaringan yang luas. Dalam kasus ini, pendekatan tersebut berhasil mempertahankan ekstremitas, mencapai penutupan defek secara sempurna, serta memungkinkan pasien tetap berdiri dan berjalan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Temuan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya penanganan kanker jaringan lunak, pengendalian infeksi pascaoperasi, rekonstruksi jaringan, dan pemeliharaan fungsi ekstremitas. SDG 9 Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui penerapan kombinasi gastrocnemius flap dan sub-flap irrigating VAC therapy dalam penanganan defek jaringan lunak yang kompleks. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan melalui upaya mempertahankan ekstremitas dan fungsi pasien sehingga tetap dapat melakukan aktivitas sehari-hari. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi multidisiplin antara tim bedah dan rekonstruksi dengan Tim Tropical Medicine serta Tim Infectious Disease. (Kontributor: dr. Meirizal, dkk.)




