FK-KMK UGM Kolaborasikan Edukasi Kesehatan dan Rumah Sehat untuk Pencegahan TBC di Yogyakarta

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi lintas disiplin untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai pencegahan tuberkulosis (TBC) dari aspek kesehatan dan kondisi fisik hunian. Kegiatan penyuluhan pertama ini dilaksanakan pada Oktober 2026 di Balai Wartamadu RW 4, Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Dipimpin oleh Dr. dr. Yogi Fitriadi, M.Sc., kegiatan ini melibatkan Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas serta Departemen Penyakit Dalam FK-KMK UGM bersama Departemen Teknik Arsitektur Fakultas Teknik UGM.

Pada sesi kesehatan, dr. Imam Manggalya, Ph.D., Sp.PD., dari FK-KMK UGM menjelaskan TBC sebagai penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat menyebar melalui udara. Ia memaparkan sejumlah faktor yang meningkatkan risiko TBC, antara lain kebiasaan merokok, malnutrisi, diabetes melitus, infeksi HIV, dan konsumsi alkohol. Warga juga diajak mengenali gejala yang perlu diwaspadai, seperti batuk berdahak selama lebih dari dua minggu, demam, keringat pada malam hari, serta penurunan berat badan.

Selain mengenali gejala, masyarakat perlu memahami pentingnya pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Pasien TBC harus menjalani pengobatan menggunakan Obat Anti-Tuberkulosis (OAT) sesuai petunjuk tenaga kesehatan hingga tuntas. Upaya pencegahan penularan juga perlu diterapkan di lingkungan keluarga dan masyarakat melalui gerakan TOSS TB, yaitu Temukan TB, Obati Sampai Sembuh. Dalam sesi diskusi, warga secara aktif mengajukan pertanyaan mengenai pengenalan gejala awal serta perbedaan TBC dengan gangguan pernapasan lain, seperti asma dan bronchitis.

Perspektif berbeda disampaikan oleh Dr. Eng. Alex Suryandono dari Departemen Teknik Arsitektur Fakultas Teknik UGM. Ia menguraikan hubungan antara kondisi fisik rumah, terutama di kawasan perkotaan yang padat penduduk, dengan risiko penularan TBC. Hunian yang minim sirkulasi udara, kurang mendapatkan cahaya alami, dan lembap dapat menciptakan lingkungan yang kurang sehat bagi penghuninya. Karena itu, kualitas rumah perlu menjadi bagian dari perhatian dalam upaya pencegahan penularan penyakit di tingkat komunitas.

Sebagai langkah yang relatif terjangkau, masyarakat dapat melakukan modifikasi sederhana untuk meningkatkan kualitas hunian. Penataan barang agar tidak menghalangi aliran udara dan masuknya cahaya, pembuatan ventilasi silang, penggunaan bovenlicht, kisi-kisi, atau roster, serta pemasangan genteng transparan (skylight) dapat dipertimbangkan sesuai kondisi rumah. Pelapisan dinding dan lantai agar lebih mudah dibersihkan juga menjadi salah satu pilihan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pencegahan TBC tidak cukup hanya mengandalkan pemahaman medis, tetapi juga memerlukan perhatian terhadap lingkungan tempat tinggal. Penataan rumah yang lebih sehat, disertai perilaku pencegahan penularan dan kepatuhan menjalani pengobatan, dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk melindungi anggota keluarga dan masyarakat.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Puskesmas Tegalrejo, Sekretaris Kelurahan Kricak, serta perwakilan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM, yaitu Djoko Santoso, Yudi, dan Isna. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut membuka ruang diskusi mengenai pengembangan program dan penyempurnaan materi edukasi. Beberapa masukan yang disampaikan meliputi penambahan materi dukungan psikologis bagi penyandang TBC dengan melibatkan psikolog, penggunaan lebih banyak gambar dalam modul edukasi, serta penguatan monitoring dan evaluasi bersama pemangku kepentingan setempat.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan edukasi, pencegahan, dan pemahaman masyarakat mengenai TBC. SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui edukasi mengenai hunian sehat dan perbaikan kualitas lingkungan tempat tinggal. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas departemen, perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, dan pemerintah setempat. (Kontributor: Dr. dr. Yogi Fitriadi, M.Sc.FM, Editor: Silvia Tri Wahyu C).