FK-KMK UGM. Mahasiswa Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada mengikuti program International Clinical Exchange di Departemen Bedah Jantung Medical University of Innsbruck, Austria. Alyssalma Callista Widiaputri, mahasiswa kedokteran mengikuti program untuk memperoleh pengalaman klinis internasional secara langsung di lingkungan rumah sakit pendidikan terkemuka, khususnya dalam bidang bedah jantung.
Selama mengikuti program tersebut, Alyssalma terlibat aktif dalam berbagai kegiatan klinis yang menjadi bagian dari alur pelayanan kesehatan di rumah sakit. Ia mengikuti rotasi di bangsal, visite di unit perawatan intensif (ICU), serta diskusi kasus bersama dokter dan profesor. Selain itu, ia juga berkesempatan menyaksikan secara langsung berbagai prosedur operasi di ruang operasi, sekaligus berinteraksi dengan pasien dengan bantuan penerjemahan dari rekan mahasiswa lain.
Tidak hanya berfokus pada observasi, Alyssalma juga mendapatkan kesempatan untuk melatih keterampilan klinis melalui keterlibatan dalam tindakan medis sederhana. Ia turut berpartisipasi dalam pelepasan kateter vena sentral, pelepasan pacemaker jantung, serta pelepasan selang drainase cairan pleura. Keterlibatan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai prosedur klinis serta manajemen pasien dalam praktik bedah jantung.
Lingkungan akademik di Tirol Kliniken dinilai sangat mendukung proses pembelajaran mahasiswa internasional. Tenaga kesehatan menunjukkan keterbukaan dalam berbagi pengetahuan serta mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam diskusi ilmiah. Alyssalma didorong untuk mengaitkan teori dasar dengan praktik klinis nyata, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan aplikatif.
Namun demikian, program ini juga menghadirkan tantangan, terutama terkait perbedaan bahasa. Bahasa Jerman yang menjadi bahasa utama dalam komunikasi klinis di Tirol Kliniken menjadi kendala tersendiri, terutama dalam situasi operasi atau kondisi kegawatdaruratan. Meskipun tenaga medis berupaya menggunakan Bahasa Inggris, keterbatasan bahasa tetap menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi.
Terlepas dari tantangan tersebut, Alyssalma berhasil mengembangkan berbagai kompetensi penting, mulai dari pemahaman diagnosis, manajemen pasien, intervensi medis, hingga terapi dan komplikasi dalam kasus bedah jantung. Ia juga memperoleh wawasan mengenai sistem pelayanan kesehatan serta pendidikan kedokteran di Austria yang terintegrasi dengan praktik klinis dan penelitian.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kapasitas mahasiswa dalam memahami praktik pelayanan kesehatan berkualitas tinggi di bidang bedah jantung, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran klinis internasional yang komprehensif dan berbasis pengalaman langsung, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama antara FK-KMK UGM dan institusi pendidikan serta rumah sakit di Austria dalam mendukung pengembangan pendidikan kedokteran yang berkelanjutan. (Kontributor: Agustina Latifah Hanum SPsi).




