FK-KMK UGM. Mahasiswa Program Magister Keperawatan menyelenggarakan edukasi dan praktik terapi Sujok bersama tenaga kesehatan RSUD Kota Yogyakarta sebagai bagian dari pembelajaran Terapi Komplementer dan Alternatif. Kegiatan yang diikuti 10 tenaga kesehatan tersebut berlangsung pada 26 Agustus 2026 di Ruang Jasmine, dengan tujuan memperkenalkan prinsip dasar dan beberapa teknik Sujok dalam konteks edukasi serta pembelajaran terapi komplementer.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari mata kuliah pilihan Terapi Komplementer dan Alternatif sekaligus mendukung program “Integrasi penelitian, pengajaran dan pengabmas tahun 2026.” Mata kuliah ini dikoordinasikan oleh Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD, sementara pelaksanaan kegiatan lapangan mendapatkan pendampingan dari Purwanta, SKp., M.Kes. dan Mutik Rosmawati, S.Kep., M.H.
Pada awal kegiatan, peserta diajak berdiskusi mengenai keluhan fisik atau rasa tidak nyaman yang mereka rasakan dalam aktivitas sehari-hari. Proses tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa untuk menggali informasi dan berkomunikasi dengan peserta sebelum menentukan teknik yang akan diperkenalkan. Mahasiswa kemudian melakukan pemeriksaan sederhana dalam konteks kegiatan pembelajaran dan memilih teknik Sujok berdasarkan keluhan yang disampaikan peserta.
Sujok diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan terapi komplementer yang menggunakan titik-titik tertentu pada tangan dan kaki sebagai area stimulasi. Dalam sesi praktik, mahasiswa mengenalkan beberapa teknik, mulai dari stimulasi menggunakan probe, terapi biji, terapi magnet, terapi warna, hingga Elastic Wire Colour and Tera-Wave Therapy (EWCT).
Proses pembelajaran berlangsung dalam suasana santai dan interaktif. Tenaga kesehatan tidak hanya mengikuti praktik yang diberikan, tetapi juga aktif berdiskusi mengenai titik-titik korespondensi, tujuan penggunaan setiap teknik, serta posisi terapi komplementer dalam konteks pelayanan kesehatan. Interaksi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa dan peserta untuk bertukar pemahaman mengenai penerapan terapi komplementer.
Purwanta, SKp., M.Kes., selaku dosen pendamping, menyampaikan bahwa kegiatan Sujok menjadi salah satu bentuk kepedulian mahasiswa dalam memberikan manfaat kepada masyarakat sekaligus memperkuat kerja sama pendidikan dengan rumah sakit, puskesmas, dan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dan prinsip Sujok di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menerapkan pembelajaran tersebut secara langsung di lapangan.
“Sujok merupakan terapi yang praktis dan mudah diterapkan. Mahasiswa telah dibekali konsep, prinsip, dan praktik pelaksanaannya dengan baik, sehingga kegiatan ini menjadi kesempatan untuk membawa pembelajaran yang diperoleh di kelas langsung kepada masyarakat,” jelas Purwanta, SKp., M.Kes.
Sejumlah peserta menyampaikan bahwa mereka merasa lebih rileks dan nyaman setelah mengikuti sesi, terutama pada bagian tubuh yang sebelumnya terasa tegang atau tidak nyaman. Respons tersebut merupakan pengalaman subjektif peserta selama kegiatan dan digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran serta evaluasi. Tanggapan tersebut tidak digunakan sebagai ukuran efektivitas klinis terapi Sujok.
Bagi mahasiswa Magister Keperawatan, kegiatan ini memberikan pengalaman untuk menghubungkan materi perkuliahan dengan situasi di lapangan. Mahasiswa berlatih menggali keluhan, membangun komunikasi dengan tenaga kesehatan, menentukan teknik berdasarkan informasi yang diperoleh, serta mengamati respons peserta setelah praktik dilakukan.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan pengetahuan mengenai pendekatan komplementer yang dapat mendukung kenyamanan dan kesejahteraan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pengalaman pembelajaran mahasiswa yang menghubungkan teori dengan praktik lapangan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dan RSUD Kota Yogyakarta dalam mendukung proses pendidikan dan pembelajaran. (Kontributor: Prof. Intansari Nurjannah, SKp., MNSc., PhD).




