FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kunjungan koordinasi ke Puskesmas Cilacap Selatan II dan Puskesmas Kesugihan II sebagai langkah awal pengembangan riset puskesmas pendekatan peer-based learning. Kunjungan dilaksanakan pada 31 Januari 2026 di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan layanan yang ramah, setara, dan bebas diskriminasi, khususnya dalam penanganan HIV di wilayah pesisir., dengan melibatkan akademisi, peneliti, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Cilacap, serta tenaga kesehatan dari kedua puskesmas.
Kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, M.A., bersama Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M.A., didampingi tim peneliti. Diskusi yang berlangsung menggambarkan kompleksitas layanan HIV di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi. Program Active Mobile VCT menunjukkan peningkatan temuan kasus HIV yang tersebar di berbagai wilayah Cilacap. Kondisi geografis sebagai kota pelabuhan besar dengan arus nelayan, tenaga kerja asing, dan pendatang menciptakan pola penularan yang dinamis dan memerlukan respons layanan kesehatan yang adaptif.
Di Puskesmas Cilacap Selatan II, tantangan utama berupa tingginya angka lost to follow up pada pasien HIV dari kalangan nelayan yang sering melaut dalam jangka waktu panjang sehingga tidak melanjutkan terapi antiretroviral secara rutin. Selain itu, faktor sosial seperti keterlantaran anak nelayan dan rendahnya partisipasi pendidikan formal turut memengaruhi kerentanan kesehatan masyarakat pesisir. Upaya promotif dilakukan dengan menyisipkan edukasi HIV/AIDS kepada anak-anak pesisir, namun stigma sosial masih mendorong sebagian Orang dengan HIV memilih berobat di luar wilayah tempat tinggalnya demi menjaga kerahasiaan.
Situasi serupa ditemukan di Puskesmas Kesugihan II, termasuk dilema etis terkait notifikasi pasangan calon pengantin ketika salah satu pihak terdiagnosis HIV positif. Tenaga kesehatan menghadapi tantangan komunikasi yang sensitif agar informasi tersampaikan secara aman tanpa menimbulkan dampak sosial yang merugikan.
Menanggapi hal tersebut, tim FK-KMK UGM menekankan pentingnya pelatihan komunikasi inklusif berbasis hak asasi manusia serta pembelajaran sejawat antar puskesmas. Pendekatan peer-based learning diharapkan menjadi ruang berbagi praktik baik dan refleksi berkelanjutan guna membangun sistem layanan primer yang responsif terhadap konteks masyarakat pesisir.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan akses layanan HIV yang berkualitas dan berkelanjutan. Selain itu, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan melalui pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV agar memperoleh layanan setara, maupun SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan juga tercermin dalam kolaborasi antara institusi akademik, dinas kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan. (Kontributor: Almaasita Yumna Hajar dan Nia Lestari Muqarohmah).


