FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) melanjutkan pengabdian kepada masyarakat melalui kunjungan rumah atau home visit kepada pasien tuberkulosis (TBC) di Kalurahan Sriharjo, Kabupaten Bantul. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 2 September 2026, ini merupakan tindak lanjut dari observasi dan need assessment bersama UPTD Puskesmas Imogiri II untuk mengembangkan pendekatan Social Prescribing Berbasis Komunitas yang sesuai dengan kebutuhan pasien dan kondisi lingkungan setempat.
Dalam kegiatan tersebut, tim mengunjungi empat pasien TBC untuk memahami kondisi kesehatan dan situasi kehidupan sehari-hari mereka secara lebih dekat. Kunjungan langsung ke rumah pasien menjadi bagian penting dalam proses penggalian kebutuhan, terutama untuk melihat faktor di luar aspek medis yang dapat memengaruhi perjalanan pengobatan dan kualitas hidup pasien.
Penanganan TBC tidak hanya bergantung pada pengobatan dan kepatuhan pasien menjalani terapi. Kondisi tempat tinggal, dukungan keluarga, kebiasaan sehari-hari, situasi ekonomi, serta stigma sosial juga dapat memengaruhi proses pemulihan. Oleh karena itu, pendampingan yang berpusat pada pasien perlu mempertimbangkan berbagai aspek tersebut agar dukungan yang diberikan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
Kegiatan home visit ini dilaksanakan bersama Shinta, Programmer TBC dari UPTD Puskesmas Imogiri II, serta seorang kader yang memahami lokasi dan kondisi lingkungan tempat tinggal pasien. Dari tim Pengabdian Masyarakat CBMH UGM, kunjungan diikuti oleh Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M.A., Dewi Afiyandari, dan Ika Setyasari, S.Kep., Ns., M.N.Sc. Keterlibatan tenaga kesehatan dan kader membantu tim memahami konteks sosial pasien sekaligus memperkuat hubungan antara pendampingan kesehatan dan dukungan yang tersedia di masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengembangan Social Prescribing Berbasis Komunitas di Sriharjo. Sebelumnya, CBMH UGM bersama UPTD Puskesmas Imogiri II telah melakukan observasi dan need assessment pada 29 Juli 2026, bersamaan dengan pengamatan pelaksanaan Active Case Finding (ACF) oleh Puskesmas Imogiri II. Pada tahap tersebut, tim mengumpulkan informasi awal mengenai karakteristik demografi, kondisi kesehatan, lingkungan tempat tinggal, serta kemungkinan stigma yang dialami pasien TBC.
Hasil penggalian kebutuhan menunjukkan bahwa setiap pasien memiliki situasi dan tantangan yang berbeda. Faktor seperti potensi paparan TBC di lingkungan keluarga, kebiasaan merokok, stigma sosial, keterbatasan akses terhadap sumber daya, ketergantungan finansial, dan penyakit penyerta perlu diperhatikan dalam merancang bentuk pendampingan. Keragaman kondisi tersebut menegaskan bahwa kebutuhan pasien tidak dapat disamaratakan dan memerlukan pendekatan yang lebih personal.
Melalui social prescribing, pasien dipandang sebagai individu yang hidup dalam lingkungan keluarga dan komunitas, bukan semata-mata sebagai orang yang sedang menjalani pengobatan. Pendekatan ini membuka ruang untuk mengidentifikasi kebutuhan nonmedis dan menghubungkan pasien dengan dukungan sosial yang relevan. Pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan privasi, kenyamanan, serta martabat pasien agar proses pendampingan berlangsung secara tepat dan menghormati kondisi setiap individu.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pendampingan pasien TBC yang memperhatikan kebutuhan kesehatan secara menyeluruh. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi perguruan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah setempat, dan komunitas dalam mendukung kesehatan masyarakat. (Kontributor: Rafi).




