FK-KMK UGM Kembangkan Model REASON untuk Tingkatkan Penalaran Klinis Mahasiswa

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada meluluskan mahasiswa Program Studi Doktor, dr. Yeny Dyah Cahyaningrum, M.Med.Ed dengan predikat Sangat Memuaskan sebagai Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Pada ujian terbuka di Auditorium Lantai 8 Gedung Tahir Foundation FK-KMK UGM pada Selasa, (02/09). dr. Yeny Dyah Cahyaningrum, M.Med.Ed memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Model Fasilitasi Pembelajaran ‘REASON’ Untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran Klinik Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter”

Penelitian ini berfokus pada fasilitasi pembelajaran penalaran klinis, yang berlangsung selama 11 minggu pada tahun akademik 2025. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa yang menjalani stase Ilmu Kesehatan Anak (IKA) dan Ilmu Penyakit Dalam (IPD) dengan melibatkan dosen klinis sebagai fasilitator. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk merumuskan dan mengimplementasikan model pembelajaran baru yang mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan penalaran klinis di setting nyata pelayanan kesehatan.

Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan desain design and development research. Pada tahap pertama, dilakukan identifikasi teknik fasilitasi pembelajaran berdasarkan literatur melalui scoping review serta pengalaman langsung dosen klinis. Hasilnya kemudian dirumuskan menjadi rancangan model yang divalidasi oleh para pakar. Tahap kedua berupa implementasi model diuji menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pre-test, post-test, dan late post-test, serta dilengkapi dengan evaluasi kualitatif melalui wawancara mendalam dosen dan FGD mahasiswa.

Dari proses tersebut, lahirlah Model REASON sebagai bentuk fasilitasi pembelajaran penalaran klinis. Model ini terdiri dari tiga tahapan: pre-interaksi (kesiapan mahasiswa dan lingkungan pembelajaran), interaksi (penguasaan pengetahuan dan strategi penerapan), serta post-interaksi (penilaian berbasis hasil dan umpan balik naratif). Uji coba Model REASON menunjukkan hasil signifikan. Analisis Repeated Measures Anova memperlihatkan adanya peningkatan bermakna nilai Diagnostic Thinking Inventory (DTI) dan Script Concordance Test (SCT) mahasiswa antara pre-test dan post-test, baik pada stase IKA maupun IPD.

“Karena model ini disusun oleh praktik baik dosen klinik di Indonesia, sehingga model REASON ini sesuai dengan apa yang terjadi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk REASON model dalam pengenalan yang mengedapankan antara mahasiswa dan dosen saling mengenal dan mengetahui, sehingga memudahkan proses interaksi dilakukan,” terang dr. Yeny.

Penelitian ini memekankan peran penting dosen klinis dalam memfasilitasi pembelajaran penalaran klinis. Melalui implementasi Model REASON, mahasiswa terbukti lebih cepat beradaptasi dalam proses pengambilan keputusan medis dan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis secara sistematis.

Tidak hanya memberikan kontribusi pada peningkatan mutu pendidikan kedokteran, pengembangan Model REASON ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Model ini selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera karena memperkuat kompetensi dokter masa depan dalam memberikan layanan kesehatan yang berkualitas, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui inovasi metode pembelajaran berbasis riset.

Selain itu, kontribusi peran perempuan dalam melakukan pembelajaran juga sejalan dengan SDG 5: Kesetaraan Gender, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan kontribusi pada pengembangan inovasi pendidikan kedokteran yang berkelanjutan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena adanya kolaborasi dalam pendidikan. (Humas/Sitam).