FK-KMK UGM. Departemen Ilmu Penyakit Dalam, mengadakan diskusi penjajakan kolaborasi riset bersama dr. Ludovico Gennaro Cobuccio, dokter spesialis penyakit dalam dan penyakit menular yang berbasis di Lausanne, Swiss. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk bertukar pengetahuan, membahas perkembangan penelitian, dan mengidentifikasi peluang kerja sama, terutama dalam pengembangan riset penggunaan ultrasonografi (USG) toraks pada pasien tuberkulosis (TB).
Diskusi tersebut dihadiri Prof. dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD-KPTI, FINASIM, dari Divisi Penyakit Tropik Infeksi, serta dr. Nur Rahmi Ananda, Sp.PD, K-PMK, dari Divisi Pulmonologi Medik Kritis. Turut hadir dr. Alindina Anjani, Sp.PD, dan dr. Taufik Indrawan, Sp.PD, staf muda Departemen Ilmu Penyakit Dalam yang juga merupakan peserta didik subspesialis penyakit dalam. Keterlibatan kedua divisi dan peserta dari lingkungan departemen memungkinkan pembahasan berlangsung dengan mempertimbangkan beragam perspektif, baik dari bidang penyakit infeksi maupun pulmonologi.
Dalam pertemuan tersebut, dr. Ludovico memaparkan penelitian yang sedang dikerjakannya mengenai penggunaan USG toraks pada pasien TB. Pemaparan ini menjadi titik awal untuk mendiskusikan potensi penerapan dan pengembangan topik penelitian tersebut bersama Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-KMK UGM, khususnya Divisi Pulmonologi Medik Kritis. Para peserta bertukar pandangan mengenai peluang penelitian yang dapat dikembangkan lebih lanjut berdasarkan minat, pengalaman, dan keahlian masing-masing.
Prof. Yanri menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap inisiatif penjajakan kolaborasi tersebut. “Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini dan mendukung pelaksanaan kerja sama riset dengan dr. Ludovico. Kami berharap diskusi ini dapat ditindaklanjuti menjadi penelitian bersama yang memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan pelayanan kesehatan, khususnya bagi pasien tuberkulosis,” ujarnya.
Pertemuan ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berlanjut melalui komunikasi dan pembahasan yang lebih terarah. Langkah berikutnya dapat difokuskan pada identifikasi prioritas penelitian, perumusan pertanyaan riset, serta penentuan bentuk kolaborasi yang sesuai dengan kompetensi masing-masing pihak. Dengan proses yang berkelanjutan, penjajakan ini berpotensi memperluas jejaring akademik internasional sekaligus membuka ruang bagi pengembangan penelitian yang berangkat dari kebutuhan klinis.
Penjajakan kolaborasi ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya pengembangan bukti ilmiah untuk mendukung peningkatan pelayanan kesehatan bagi pasien tuberkulosis. Kegiatan ini juga mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan pertukaran pengetahuan dan penjajakan kerja sama riset lintas negara. (Kontributor: Siwi Ratri).



