FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan webinar bertema “Peran Akupunktur dan Nutrisi dalam Pencegahan Stunting” sebagai bentuk edukasi dan promosi layanan kesehatan terpadu untuk anak-anak. Kegiatan ini berlangsung pada pertengahan 2025 dan menghadirkan sejumlah pakar lintas bidang untuk mengupas integrasi layanan kesehatan tradisional dan modern yang berbasis pada bukti ilmiah (evidence-based medicine).
Webinar dibuka oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., yang menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam mengatasi stunting, termasuk dengan pemanfaatan nutrisi yang tepat, aktivitas fisik, serta gaya hidup sehat. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi media promosi bagi rumah sakit dan klinik dalam mengembangkan layanan akupunktur serta layanan tumbuh kembang anak.
Pemaparan pertama disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Koosnadi Saputra, Sp.Rad(K) yang menjelaskan bagaimana gangguan pertumbuhan seperti tubuh pendek dan otot lemah pada anak bisa dipengaruhi oleh ketidakseimbangan hormon pertumbuhan, genetika, lingkungan, serta stres. Ia menyoroti pentingnya pemenuhan nutrisi dan pengendalian konsumsi lipid dan glukosa yang berlebihan karena dapat menghambat produksi growth hormone yang esensial untuk pertumbuhan tulang.
Pembicara selanjutnya, dr. Endang M. Soewondopranoto, Akp., memaparkan bagaimana akupunktur berperan dalam meningkatkan produksi ASI. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan laktasi tak hanya dipengaruhi oleh aspek biologis, tetapi juga emosional, seperti stres dan kondisi psikologis ibu yang berdampak pada hormon oksitosin. Dengan metode poliakupunktur, banyak pasien berhasil meningkatkan produksi ASI tanpa penggunaan obat, menunjukkan efektivitas pendekatan tradisional bila diterapkan dengan tepat.
Melengkapi paparan sebelumnya, Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc., Akp., Sp.GK menjelaskan bahwa stunting berdampak pada pertumbuhan fisik dan kognitif anak. Ia menekankan pentingnya pola makan seimbang sejak masa pemberian MPASI, termasuk konsumsi sayur, buah, biji-bijian, serta nutrisi makro dan mikro seperti vitamin A, B, dan zinc. Selain itu, aktivitas fisik dan pengaturan waktu makan juga menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak.
Dalam forum ini, disampaikan pula pentingnya kolaborasi multipihak, termasuk keterlibatan tenaga kesehatan, akademisi, pembuat kebijakan, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung layanan kesehatan anak yang terintegrasi. Dukungan riset dan ketersediaan SDM terlatih juga menjadi fondasi dalam penerapan pendekatan berbasis bukti.
Kegiatan ini mencerminkan komitmen FK-KMK UGM terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan upaya mencegah stunting dan meningkatkan status gizi anak, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyebarluasan pengetahuan berbasis ilmiah kepada masyarakat, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan layanan kesehatan anak secara berkelanjutan. Harapannya, pendekatan ini dapat menjadi inspirasi bagi sistem layanan kesehatan yang lebih adaptif dan inklusif terhadap kebutuhan anak-anak Indonesia. (Kontributor: Bestian Ovilia Andini).




