FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menggelar Syawalan 1447 Hijriah pada Jumat (2/4/2026). Kegiatan diselenggarakan di Auditorium FK-KMK UGM, untuk menyambung silaturahmi dan kerukunan keluarga besar fakultas. Kali ini, acara Syawalan mengusung tema “Peningkatan dan Penguatan Karakter Pasca Ramadan” dalam acara utama Hikmah Syawalan.
Acara dibuka dengan pembacaan doa dan penyampaian ikrar Syawalan oleh perwakilan dari dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa FK-KMK UGM. Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, turut menyampaikan sambutan dan mengatakan bahwa ketika Ramadan mengajarkan umat Muslim untuk menahan diri, maka Syawalan mengajarkan pentingnya membuka hati. Kepada seluruh sivitas FK-KMK UGM, Prof. Yodi memohon maaf apabila terdapat kekurangan dan menimbulkan rasa kurang berkenan dalam berinteraksi hingga pengambilan kebijakan.
“Syawalan pagi ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum untuk memperkuat kembali jalinan kebersamaan kita,” ujar Prof. Yodi.
Acara utama pun dimulai, yakni Hikmah Syawalan yang menghadirkan Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai narasumber, dimoderatori oleh dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed. PhD. Dalam sesinya, Prof. Wahid mengkaji intisari buku “Interactions of the Greatest Leader: The Prophet’s Dealings with Different People” karya Muhammad Salih Al-Munajjid. Buku tersebut membahas akhlak Rasulullah dalam berinteraksi dengan makhluk lain, yang dapat diteladani tidak hanya pasca Ramadan, tetapi kapan pun dan di mana pun.
Rektor UII tersebut menerangkan, manusia memiliki banyak mitra interaksi dalam hidup. Secara khusus, Prof. Wahid menekankan akhlak yang dapat diteladani dari Rasulullah kepada pendosa sebagai ilmu utama yang perlu diimplementasikan pasca Ramadan, karena setiap manusia tidak luput dari dosa.
“Terhadap pendosa, kita tetap harus berlemah lembut, menjelaskan kesalahan dengan hikmah, mendorong mereka bertaubat dan beramal baik. Kita juga berkewajiban untuk tetap penutup aib pendosa, tidak tergesa-gesa menghukum, tidak mencela pendosa, menegur dengan tegas apabila perlu, bahkan mengakui iman pada pendosa,” terang Prof. Wahid.
Selain kepada pendosa, Prof. Wahid turut menjelaskan akhlak terhadap istri atau suami, anak, cucu, kerabat, tetangga, tamu dan tuan rumah, sahabat dekat, pelayan dan budak, hingga penyandang disabilitas. Tak hanya itu, umat Muslim tak lepas untuk tetap berakhlak kepada orang miskin, orang kaya dan orang penting, orang yang berselisih, Muslim baru, orang berdosa dan munafik, perempuan, orang tua, dan anak muda, serta makhluk non-manusia seperti hewan dan makhluk lain.
Selepas penyampaian Hikmah Syawalan, dr. Yoyo selaku moderator membuka sesi tanya jawab kepada para audiens yang hadir. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Prof. Wahid dan sesi bermaafan antara seluruh sivitas FK-KMK UGM.
Syawalan Keluarga Besar FK-KMK UGM merupakan bagian dari upaya fakultas dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Acara ini menjadi wadah seluruh sivitas FK-KMK UGM dalam mencegah diskriminasi dan penindasan di tempat kerja melalui siraman Rohani, sambung silaturahmi, dan saling memaafkan. (Penulis: Citra/Humas).



