FK-KMK UGM Dukung Deklarasi DRIVE Consortium untuk Perkuat Layanan Retinopati Diabetik Nasional

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada mendukung peluncuran dan penandatanganan Deklarasi Komitmen Bersama Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives sebagai langkah strategis nasional dalam membangun sistem layanan Retinopati Diabetik yang terintegrasi dan paripurna di Indonesia. Deklarasi ini dilaksanakan pada 18 Desember 2025 di Jakarta dengan melibatkan perwakilan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, organisasi profesi seperti PERDAMI, organisasi non-pemerintah, serta sektor swasta. Inisiatif ini bertujuan menekan angka kebutaan permanen akibat komplikasi diabetes melalui penguatan deteksi dini dan tata laksana yang tepat waktu.

Indonesia menghadapi peningkatan signifikan jumlah penyandang Diabetes Melitus. Survei Kesehatan Indonesia 2023 memperkirakan sekitar 11 persen atau 32 juta penduduk hidup dengan diabetes dan berisiko mengalami Retinopati Diabetik. Komplikasi mikrovaskular ini menjadi salah satu penyebab utama kebutaan pada usia produktif. Riset yang dipimpin oleh Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, Sp.M(K), M.Epi., Ph.D. dari UGM menunjukkan prevalensi Retinopati Diabetik mencapai 43,1 persen pada penyandang diabetes tipe 2. Sekitar satu dari empat pasien berisiko mengalami Visual Threatening Diabetic Retinopathy dan satu dari dua belas di antaranya mengalami kebutaan bilateral. Setiap tahun diperkirakan terdapat 256 ribu kasus kebutaan baru akibat Retinopati Diabetik, dengan potensi kerugian ekonomi mencapai Rp 84,7 triliun. Padahal, deteksi dini dan tata laksana yang tepat dapat mencegah hingga 95 persen kasus kehilangan penglihatan.

DRIVE Consortium mengidentifikasi tantangan berupa fragmentasi layanan dari fasilitas kesehatan primer hingga lanjutan, kesenjangan akses akibat keterbatasan sumber daya manusia dan infrastruktur, serta rendahnya kesadaran pasien terhadap pentingnya pemeriksaan mata rutin. Menjawab hal tersebut, konsorsium berkomitmen membangun sistem layanan terintegrasi, memperluas pemanfaatan tele-oftalmologi untuk skrining massal, meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, menjamin ketersediaan terapi standar, memperkuat registri nasional kesehatan mata, serta mengedukasi dan memberdayakan pasien agar pemeriksaan mata menjadi bagian dari manajemen diabetes sehari-hari.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., menegaskan bahwa upaya preventif dan deteksi dini merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan bangsa. Pemerintah berkomitmen memastikan skrining Retinopati Diabetik dapat dilakukan secara luas di layanan primer dengan dukungan teknologi dan alur rujukan yang jelas. Sebagai peneliti utama dalam uji coba percontohan penanganan Retinopati Diabetik komprehensif, Prof. Bayu Sasongko menjelaskan bahwa proyek ini akan mengembangkan model skrining dan tata laksana terintegrasi sesuai standar medis, dengan dukungan PT Roche dan mitra lainnya di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan.

Inisiatif ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui penguatan pencegahan kebutaan dan peningkatan kualitas layanan kesehatan mata. SDG 4: Pendidikan Berkualitas tercermin dalam peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan edukasi pasien berbasis bukti. SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan diimplementasikan melalui perluasan akses skrining dan terapi di berbagai wilayah Indonesia. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diperkuat melalui kolaborasi multipihak antara pemerintah, akademisi, organisasi profesi, dan sektor swasta. (Kontributor: Rima Afifah Putri).