FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM bekerja sama dengan KAGAMA Kedokteran FK-KMK UGM menyelenggarakan Seminar Penguatan Manajemen Mutu Pelayanan Geriatri di Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagai bagian dari rangkaian Annual Scientific Meeting untuk merespons isu strategis peningkatan kualitas hidup lansia di Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan pada 7 Februari 2026 dan dihadiri oleh akademisi, praktisi kesehatan, serta pemangku kepentingan layanan geriatri dengan tujuan memperkuat keselamatan pasien dan mutu pelayanan bagi populasi usia lanjut di tengah meningkatnya angka harapan hidup. Seminar dimoderatori oleh Tri Yatmi, S.Kep., Ns., M.N.Sc.
Seminar dibuka oleh dr. M. Hardhantyo, MPH., Ph.D., yang menekankan urgensi penguatan manajemen mutu dan keselamatan pasien geriatri. Data World Bank menunjukkan harapan hidup lansia di Indonesia meningkat signifikan hingga mencapai 73 tahun pada periode 1960 hingga 2020. Namun demikian, terjadi pergeseran tren faktor risiko kematian, dengan penyakit tidak menular diproyeksikan menjadi penyebab utama kematian pada 2040. Kondisi ini diperberat dengan fakta bahwa sekitar 30 hingga 40 persen lansia mengalami gangguan kognitif dan hampir 60 persen menghadapi gangguan mobilitas. Oleh karena itu, pelayanan geriatri yang aman, nyaman, dan terintegrasi menjadi kebutuhan mendesak, sejalan dengan standar layanan geriatri dan konsep integrated care for older people yang direkomendasikan WHO.
Sesi pertama menghadirkan dr. Amelia Nur Vidyanti, Sp.N, Sub.Sp.NGD(K), Ph.D., yang membahas pentingnya skrining demensia dan stimulasi kognitif di fasilitas pelayanan kesehatan. Demensia dijelaskan sebagai sindrom penurunan fungsi kognitif yang melampaui penuaan normal dan mengganggu aktivitas sehari-hari, dengan perjalanan penyakit yang dapat berlangsung hingga dua dekade. Data global menunjukkan lebih dari 50 juta orang hidup dengan demensia dan hampir 10 juta kasus baru muncul setiap tahun. Di Indonesia, prevalensi rata-rata mencapai 27,9 persen dan bahkan 45,7 persen berdasarkan studi berbasis rumah sakit. Skrining menggunakan instrumen seperti MMSE dan MoCA-Ina, disertai pendekatan nonfarmakologis seperti stimulasi kognitif, menjadi strategi penting meskipun tantangan pembiayaan masih menjadi kendala.
Sesi kedua oleh dr. Rosyad Nur Khadafi, Sp.OT., menyoroti pentingnya latihan fisik terstruktur bagi lansia untuk mencegah sarcopenia, risiko jatuh, dan disabilitas. Latihan harus dilakukan secara bertahap, individual, dan terpantau, mencakup komponen aerobik, fleksibilitas, kekuatan, dan keseimbangan. Edukasi pasien dan keluarga menjadi kunci keberhasilan implementasi. Sementara itu, drg. Puti Aulia Rahma, MPH., CFE., pada sesi ketiga menekankan pentingnya edukasi pencegahan fraud, mengingat lansia rentan terhadap penipuan digital akibat keterbatasan fisik, kognitif, dan literasi digital. Pendekatan berbasis komunitas dan integrasi dalam pelayanan rutin dinilai efektif untuk meningkatkan perlindungan lansia.
Kegiatan ini sejalan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pelayanan kesehatan lansia yang berorientasi pada pencegahan penyakit tidak menular, keselamatan pasien, dan peningkatan kualitas hidup. SDG 4: Pendidikan Berkualitas tercermin dalam diseminasi ilmu dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui forum ilmiah. Serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademisi, praktisi, organisasi alumni, dan pemangku kepentingan layanan kesehatan dalam memperkuat sistem pelayanan geriatri nasional. (Kontributor: Nikita Widya Permata Sari).


