FK-KMK UGM Dorong Peneliti Mengubah Hasil Riset Menjadi Opini Publik

FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) menyelenggarakan pelatihan penulisan opini “Dari Gagasan ke Tulisan” pada 7 September 2026 dalam rangka menyongsong Fornas JKKI 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini diikuti oleh peneliti UGM serta peserta umum dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat untuk memperkuat kemampuan mengolah hasil riset menjadi tulisan opini yang komunikatif, relevan, dan dapat menjangkau khalayak yang lebih luas. Pelatihan menghadirkan Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. dari FK-KMK UGM dan Pratiwi Utami, S.I.P., M.Comm Med.St., Ph.D. dari FISIPOL UGM sebagai narasumber.

Dalam penyampaiannya, Prof. Laksono menegaskan bahwa peran peneliti dan akademisi kesehatan masyarakat tidak berhenti pada menghasilkan penelitian. Temuan riset juga perlu dikomunikasikan agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan dan mendorong perubahan kebijakan. Karena itu, kemampuan menulis untuk khalayak umum menjadi bagian penting dalam memperluas dampak penelitian.

Namun, mengubah hasil penelitian menjadi opini bukan perkara sederhana. Isu kesehatan sering kali bersinggungan dengan aspek politik, ekonomi, sosial, dan etika. Berbagai persoalan seperti jaminan kesehatan nasional, BPJS, cek kesehatan gratis, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pendidikan residen, hingga integrasi layanan primer membutuhkan cara penyampaian yang tepat agar substansi akademiknya tetap terjaga sekaligus dapat dipahami pembaca media massa.

Tantangan lainnya muncul ketika peneliti terbiasa menggunakan bahasa yang sangat teknis. Sementara itu, media massa membutuhkan tulisan yang mampu menangkap persoalan pada tingkat yang lebih umum dan makro. Dalam konteks tersebut, opini menjadi jembatan untuk menerjemahkan kompleksitas penelitian menjadi gagasan yang memiliki relevansi bagi kepentingan publik.

Sementara itu, Pratiwi Utami, Ph.D., menjelaskan bahwa opini merupakan ruang untuk menyampaikan gagasan dan argumentasi sekaligus dapat menjadi instrumen advokasi dan persuasi. Data penelitian perlu diterjemahkan agar memiliki makna bagi masyarakat. Penulis perlu mempertimbangkan relevansi isu, persoalan publik yang diangkat, dampaknya, serta alasan mengapa isu tersebut penting diketahui oleh masyarakat.

Sejumlah isu lain juga dibahas sebagai contoh pengembangan hasil riset menjadi gagasan publik, mulai dari kesalahpahaman masyarakat terhadap vaksin, layanan kesehatan jiwa bagi penyandang disabilitas sosial, hingga kebutuhan task shifting di puskesmas. Gagasan tersebut dapat dikembangkan lebih jauh dengan melihat persoalan bukan semata-mata dari perspektif akademik, tetapi juga dari kebutuhan masyarakat dan kemungkinan perubahan sistem.

Opini juga dapat digunakan untuk mengangkat isu yang lebih spesifik dan aktual. Dalam pelatihan dibahas antara lain penguatan kompetensi tenaga kesehatan dalam program triple eliminasi melalui pembelajaran berbasis Massive Open Online Course (MOOC), regenerasi kader Posyandu yang menghadapi persoalan insentif dan usia kader, serta pengalaman perempuan yang menjalankan peran sebagai ibu sekaligus mahasiswa doktoral.

Dalam prosesnya, penulis perlu mampu menyederhanakan persoalan tanpa menghilangkan substansi. Sumber utama opini dapat berasal dari hasil riset dan data empiris, tetapi kekuatan tulisan juga ditentukan oleh kemampuan penulis melihat isu dari perspektif kepentingan publik. Data tidak cukup hanya disajikan, tetapi perlu diolah menjadi argumentasi yang menjawab persoalan dan menunjukkan mengapa pembaca perlu memperhatikannya.

Pembahasan juga menyentuh tantangan yang muncul dari kebijakan redaksi media. Tulisan yang terlalu mikro, terlalu teknis, atau mengangkat isu yang sudah terlalu sering dibahas memiliki kemungkinan tidak sesuai dengan kebutuhan media. Karena itu, penulis perlu memahami karakter media yang dituju, termasuk bagaimana memilih sudut pandang dan menyusun gagasan agar memiliki nilai bagi pembaca.

Di tengah perkembangan teknologi, Pratiwi turut mengingatkan bahwa artificial intelligence (AI) dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses penulisan, tetapi bukan sebagai pengganti gagasan dan gaya personal penulis. Kemampuan utama tetap berada pada penulis dalam menemukan persoalan, membangun argumentasi, memilih data, dan menentukan sudut pandang yang relevan.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kapasitas peneliti dan akademisi dalam komunikasi pengetahuan. Kegiatan ini sesuai dengan SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan pengetahuan dan inovasi dalam diseminasi hasil riset. Kegiatan ini mendukung SDG 16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan komunikasi berbasis data untuk mendukung pemahaman publik dan kebijakan. (Kontributor: Widarti)