FK-KMK UGM Dorong Kesadaran Hidup Sehat di Bulan Puasa Melalui Pasinaon Piwulang Luhur Ramadan

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menyelenggarakan kegiatan Pasinaon Piwulang Luhur Edisi Ramadan 1447 H pada Rabu (4/3). Kegiatan ini diselenggarakan secara daring menggunakan platform Zoom dan diikuti oleh 155 peserta dari civitas akademika FK-KMK UGM. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kesehatan di tengah menjalani ibadah puasa.

Pasinaon Piwulang Luhur ini diawali dengan sambutan dari Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K) selaku Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Kepada Masyarakat FK-KMK UGM. dr. Sudadi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda silaturahmi rutin dari civitas akademika FK-KMK UGM. Selain itu, dr. Sudadi menyampaikan bahwa kegiatan Pasinaon Luhur edisi Ramadan ini cukup berbeda karena menyesuaikan dengan momentum sepuluh hari kedua Ramadan. dr. Sudadi menegaskan, kegiatan ini dikemas dengan edukasi kesehatan edisi Ramadan sebagai sarana untuk menjaga hidup sehat di tengah menjalani ibadah puasa.

“Bulan puasa ini kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi kita juga perlu melatih kedisiplinan dalam penyesuaian pola hidup yang sehat untuk mendukung profesionalitas dan produktivitas saat beraktivitas,” kata dr. Sudadi.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., AIFO-K yang menyampaikan bahwa irama harian tubuh (irama sirkadian) di bulan puasa memiliki kondisi berbeda dari kondisi biasanya. Prof. Denny menegaskan bahwa saat menjalani bulan puasa, manusia akan menyesuaikan fisik pada beberapa hal, antara lain perubahan fisik, mental, perilaku yang diatur dalam jam biologis, dan reaksi organ tubuh melakukan penyesuaian untuk meregenerasi.

Prof. Denny menekankan, selama puasa, hormon kortisol melakukan penyesuaian dengan kondisi fisiologis yang berfungsi menyediakan energi, membongkar cadangan glukosa, respons stres, dan mengatur kekebalan tubuh. Sedangkan, pada hormon melatonin, tubuh manusia menyesuaikan kondisi fisiologis yang berfokus penyediaan energi, pembersihan tubuh dari radikal bebas, menurunkan kewaspadaan, dan mengatur siklus hidup.

“Untuk menjaga kebugaran tubuh selama Ramadan, kita bisa melaksanakan olahraga yang berfokus pada otot dengan gerakan teratur dan terukur. Hal ini dibutuhkan untuk menjaga kondisi fisiologis dengan mengatur pola produksi kortisol dan melatonin.”

Selanjutnya, pemaparan materi disampaikan oleh Dr. Fatma Zuhrotin Nisa’, STP., M.P yang menyampaikan bahwa selama menjalani puasa, kondisi tubuh memiliki kemiripan dengan manusia saat melakukan diet. Namun, diet yang dimaksud merupakan bentuk kontrol pola makan dan gizi sebagai asupan tubuh. Dr. Fatma menyampaikan, selama puasa, kondisi lambung mengalami proses regenerasi sel-sel internal. Kondisi ini terjadi yang semula manusia perlu tiga kali untuk mencerna makanan di organ tubuh, kini beralih menjadi dua kali sehari. Selain itu, Dr. Fatma menegaskan, dalam menjalani ibadah puasa, kondisi tubuh mengalami penyesuaian pencernaan dari 35 persen menjadi 86 persen. Kondisi ini membuat organ usus dapat istirahat dalam keadaan yang lebih optimal.

“Selama menjalankan puasa, tubuh dapat melakukan penyesuaian untuk diet dengan mengontrol menu, porsi, dan cara makan. Hal ini merupakan cara alternatif untuk memaknai ilmu pengetahuan dan ajaran agama guna mengontrol kehidupan sehat,” kata Dr. Fatma.

Kegiatan ini turut mendukung komitmen pada Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pentingnya menjaga aktivitas tubuh dan pola makan selama menjalani ibadah puasa untuk menyesuaikan kondisi fisiologis. Acara ini juga mendukung capaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menekankan pentingnya dialog ilmu kesehatan dan ajaran agama Islam untuk meningkatkan kekhusyukan ibadah. (Reporter/Tedy).