FK-KMK UGM Dorong Kemandirian Lansia melalui Program Lansia BERDIKARI di Nogotirto

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Lansia BERDIKARI: Lansia Berkarya dan Mandiri” sebagai upaya pemberdayaan lansia dan pra lansia di Kelurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus kesehatan lansia melalui penguatan keterampilan produktif dan pemasaran berbasis komunitas. Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut dilaksanakan sepanjang tahun 2025 dan melibatkan puluhan lansia yang tergabung dalam Sanggar Seni Srikandi Lansia Mandiri sebagai sasaran utama program.

Program Lansia BERDIKARI merupakan kelanjutan dari berbagai inisiatif pemberdayaan lansia yang telah lebih dahulu dijalankan oleh FK-KMK UGM, seperti program “Lansia Plus” dan “Srikandi Lansia”. Melalui kesinambungan program ini, FK-KMK UGM berupaya memastikan keberlanjutan dampak intervensi, tidak hanya pada aspek kesehatan fisik lansia, tetapi juga pada peningkatan peran sosial dan kemandirian ekonomi mereka di tingkat komunitas.

Kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Christantie Effendy, SKp., M.Kes., dengan dukungan tim multidisiplin yang terdiri atas Ema Madyaningrum, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D., dari Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FK-KMK UGM, serta dr. Anastasia Evi Handayaningsih, Ph.D., Sp.PD, Subsp.Ger(K), dari Departemen Penyakit Dalam. Program ini juga diperkuat melalui kolaborasi dengan alumni FK-KMK UGM dan Yayasan Lotus Jaya Sejahtera sebagai mitra pendampingan.

Sebanyak kurang lebih 50 lansia dan pra lansia mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan selama delapan minggu. Peserta dibekali keterampilan mengolah sampah organik menjadi produk eco enzyme yang bernilai guna, sekaligus memperoleh pelatihan pemasaran agar mampu memasarkan produk secara mandiri. Proses pendampingan tidak hanya berfokus pada aspek teori, tetapi juga praktik langsung, mulai dari uji produk, proses pengiriman ke BPOM, hingga keikutsertaan dalam kegiatan bazar sebagai sarana promosi.

Hasil pelaksanaan program menunjukkan dampak yang signifikan. Para peserta menjadi lebih percaya diri, aktif secara sosial, serta memperoleh tambahan penghasilan dari produk yang dihasilkan. Aktivitas yang terstruktur dan berkelanjutan ini juga berdampak positif pada kesehatan fisik dan mental lansia, sekaligus memperkuat solidaritas sosial di lingkungan mereka. Program Lansia BERDIKARI membuktikan bahwa lansia tetap memiliki potensi besar untuk berkarya dan mandiri apabila didukung dengan pendampingan yang tepat. Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan lansia yang dapat direplikasi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas hidup lansia di Indonesia.

Pengabdian kepada masyarakat ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kesehatan fisik dan mental lansia, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan aktivitas ekonomi produktif lansia, SDG 10: Mengurangi Kesenjangan dengan mendorong kemandirian dan partisipasi sosial lansia agar tidak terpinggirkan dalam pembangunan masyarakat, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Kontributor: Ema Madyaningrum).