FK-KMK UGM. Jurnal Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat, FK-KMK UGM menyelenggarakan 7th Conference on Community Empowerment for Health (CCE Health) 2025 sebagai forum ilmiah internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi kesehatan. Kegiatan ini menjadi wadah diseminasi riset dan inovasi promosi kesehatan, termasuk partisipasi aktif mahasiswa dan dosen FK-KMK UGM dalam mempresentasikan hasil penelitian berbasis pengabdian masyarakat. Konferensi bertema “Driving Innovation in Health Promotion During Crises” tersebut dilaksanakan secara hybrid pada 7 Oktober 2025, mengombinasikan pertemuan luring dan daring untuk menjangkau peserta dari berbagai wilayah.
Dalam konferensi tersebut, mahasiswa Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM angkatan 2022, Muhammad Rifqi Taftazani, tampil mempresentasikan hasil penelitian di bawah bimbingan dr. Alfin Harjuno Dwiputro, M.Sc., dosen Departemen Parasitologi FK-KMK UGM. Rifqi memaparkan artikel ilmiah berjudul “Too young to test? Evaluating questionnaire-based health knowledge assessment in early grade elementary school children” yang mengkaji efektivitas metode ceramah dalam meningkatkan pengetahuan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada anak sekolah dasar kelas awal.
Penelitian ini berangkat dari pentingnya PHBS sebagai fondasi pendidikan kesehatan masyarakat sejak dini. Anak-anak kelas 2 dan 3 sekolah dasar dipandang sebagai kelompok strategis untuk intervensi promotif dan preventif. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ceramah semata belum cukup efektif meningkatkan pengetahuan PHBS pada kelompok usia 7–10 tahun. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, sehingga menimbulkan refleksi kritis terhadap metode edukasi kesehatan yang selama ini digunakan.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti keterbatasan penggunaan kuesioner sebagai alat ukur pemahaman anak usia dini. Temuan tersebut menegaskan perlunya pendekatan edukasi yang lebih interaktif, kreatif, berulang, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak agar pesan kesehatan dapat dipahami dan diinternalisasi secara optimal. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada riset akademik, tetapi juga merupakan bagian dari pengabdian masyarakat berbasis bukti ilmiah yang melibatkan dosen, mahasiswa, sekolah, serta masyarakat lokal.
Kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera diwujudkan melalui upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat sejak usia dini sebagai langkah pencegahan penyakit. SDG 4: Pendidikan Berkualitas tercermin dari dorongan pengembangan metode pembelajaran kesehatan yang lebih efektif, partisipatif, dan menyenangkan bagi anak. SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi didukung melalui penguatan kesadaran anak mengenai pentingnya kebersihan diri dan lingkungan. Sementara itu, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diwujudkan melalui kolaborasi antara universitas, sekolah, dan masyarakat lokal dalam pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis bukti. (Kontributor: Alfin Harjuno Dwiputro).




