FK-KMK UGM Dorong Inovasi Kesehatan Hemat Biaya Lewat Teknologi Terapi Luka RAP-VAC

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menunjukkan pengembangan teknologi medis yang inovatif dan relevan bagi kebutuhan pelayanan kesehatan di negara berkembang. Tim peneliti dari FK-KMK UGM berhasil menghadirkan solusi baru melalui teknologi Reverse Aqua Pump Vacuum-Assisted Closure (RAP-VAC) sebagai alternatif terapi luka berbasis tekanan negatif yang efektif dan ekonomis.

Penelitian ini berjudul “Reverse Aqua Pump Vacuum-Assisted Closure Alternative and Affordable Solution for Emerging Cost in Wound Therapy: A Case Series” dan telah dipublikasikan di International Journal of Surgery Case Reports (Elsevier, 2025). Artikel ini ditulis oleh Meirizal, Rahadyan Magetsari, Mohammad Rizal Chaidir, Sumadi Lukman Anwar, Agung Susilo Lo, dan I Made Dolly, yang seluruhnya merupakan kolaborator riset dari FK-KMK UGM.

Latar belakang penelitian ini berangkat dari tantangan yang dihadapi fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. Selama ini, terapi tekanan negatif atau Vacuum-Assisted Closure (VAC) dikenal efektif dalam mempercepat penyembuhan luka dengan meningkatkan perfusi jaringan, mengurangi edema, serta menstimulasi pembentukan jaringan granulasi baru. Namun, biaya tinggi alat VAC komersial menjadi kendala utama dalam penerapannya secara luas di rumah sakit Indonesia. Menjawab permasalahan tersebut, tim peneliti FK-KMK UGM mengembangkan RAP-VAC dengan prinsip kerja yang serupa, menggunakan modifikasi sederhana dari pompa air (aqua pump) untuk menghasilkan tekanan negatif yang stabil pada luka.

Hasil penelitian yang melibatkan 13 pasien dengan defek jaringan lunak menunjukkan bahwa RAP-VAC memberikan hasil penyembuhan yang signifikan. Ukuran luka rata-rata berkurang dari 50,19 cm² menjadi 45,25 cm², dengan tingkat granulasi jaringan mencapai 92,13 persen. Durasi rata-rata persiapan luka adalah 20,9 hari, dan biaya terapi hanya sekitar Rp2,37 juta per pasien, jauh lebih rendah dibandingkan terapi VAC konvensional. Analisis statistik membuktikan adanya penurunan signifikan ukuran luka seiring waktu, menandakan efektivitas metode ini dalam mempercepat proses penyembuhan.

Penulis utama, Meirizal, menjelaskan bahwa RAP-VAC tidak hanya menawarkan efektivitas klinis, tetapi juga memberikan solusi nyata terhadap keterbatasan biaya dan sumber daya. “Temuan kami menunjukkan bahwa RAP-VAC tidak hanya efektif dalam mempercepat penyembuhan luka, tetapi juga realistis diterapkan di rumah sakit dengan fasilitas terbatas,” ujarnya. Inovasi ini sekaligus membuktikan bahwa teknologi medis yang berdampak besar dapat lahir dari kreativitas lokal yang menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

Melalui penelitian ini, tim FK-KMK UGM mempertegas komitmennya terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan meningkatkan kualitas layanan kesehatan melalui inovasi berbasis kebutuhan masyarakat, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan mendorong kemandirian teknologi kesehatan nasional yang efisien dan terjangkau, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penelitian mengenai RAP-VAC oleh tim FK-KMK UGM menjadi tonggak penting dalam upaya menyediakan solusi medis yang inovatif, hemat biaya, dan mudah diterapkan di fasilitas kesehatan Indonesia. Temuan ini menegaskan bahwa inovasi dalam bidang kesehatan tidak selalu memerlukan teknologi mahal, tetapi dapat lahir dari ide-ide kreatif yang berpihak pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat luas. (Kontributor: dr. Meirizal).