FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menerima kunjungan dari Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (23/09) di Ruang Rapat 2.1 Gedung KPTU FK-KMK UGM. Pertemuan ini dilaksanakan untuk membahas tindak lanjut kerja sama dalam peningkatan layanan kesehatan.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Kepada Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Sudadi, Sp.An., KNA., KAR., menyampaikan bahwa pertemuan ini diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan konkret yang dapat segera ditindaklanjuti. Ia menegaskan pentingnya alur koordinasi yang jelas agar rencana kerja sama berjalan efektif, mulai dari pembahasan kebutuhan tenaga medis hingga perencanaan teknis pengiriman dokter residen.
Rombongan Pemkab Sikka dipimpin oleh Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriadi, bersama Helena Ratna Vianey dari RSUD Dr. TC Hillers, dr. Santy Flora D. Delang, dan Petrus Roberto Lori selaku Kabag Protokoler dan Komunikasi Setda Sikka. Ir. Simon menyatakan kesiapan pihaknya dalam mengikuti arahan kerja sama serta membuka peluang besar bagi kolaborasi dengan UGM. “Kami sangat berharap kekurangan tenaga dokter spesialis, khususnya anestesi dan obsgin, dapat diatasi melalui kerja sama ini. Kami siap menyambut kunjungan tim UGM ke Kabupaten Sikka dan menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan,” jelasnya.
Diskusi kemudian membahas kondisi terkini RSUD Dr. TC Hillers yang masih menghadapi keterbatasan tenaga spesialis. Saat ini hanya tersedia satu dokter obsgin, sementara kebutuhan pasien tersebar di banyak fasilitas kesehatan. Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menawarkan beberapa opsi solusi. Pertama, dokter dari Sikka dapat melanjutkan studi di FK-KMK UGM dengan komitmen pengabdian kembali di daerah asal.
“Opsi kedua adalah pengiriman residen FK-KMK UGM untuk bertugas sementara di Sikka, sebuah program yang memang dirancang untuk mendukung pelayanan kesehatan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T),” terang dr. Hamim.
Pertemuan ini diharapkan dapat membangun sinergi antara institusi akademik dan pemerintah daerah guna memperkuat layanan kesehatan masyarakat. Kolaborasi ini juga sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui peningkatan akses layanan kesehatan berkualitas, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. (Humas/Sitam).




