FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center for Health Behavior and Promotion/CHBP) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Need Assessment Program Optimalisasi Kampung Sehat bersama Kelurahan Demangan sebagai langkah awal mengevaluasi pelaksanaan Program Kampung Sehat Peduli Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) sekaligus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat untuk pengembangan program berikutnya. Kegiatan berlangsung pada Jumat, 17 Juli 2026, di Aula Kantor Kelurahan Demangan, Yogyakarta, dengan melibatkan kader TP-PKK, pemerintah kelurahan, serta tim akademisi FK-KMK UGM dalam upaya memperkuat promosi kesehatan berbasis masyarakat.
FGD diikuti oleh perwakilan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dari seluruh RW di Kelurahan Demangan bersama Sekretaris TP-PKK Kelurahan. Diskusi dipandu oleh Tutik Istiyani, S.Sos. sebagai fasilitator dengan didampingi Hafizha Ulya Nafi’u, S.K.M., M.P.H. sebagai co-fasilitator. Kegiatan juga melibatkan tim karyasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM, yaitu Nyimas Sopi Sibtiah, S.K.M. sebagai notulis dan Ary Kurniati Teuf, S.K.M. sebagai pencatat lapangan. Sebelum diskusi dimulai, seluruh peserta memperoleh penjelasan mengenai tujuan kegiatan, mekanisme pelaksanaan, serta mengisi lembar persetujuan (informed consent) sebagai bentuk penerapan prinsip etik penelitian.
Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan menggali pengalaman para kader selama mendampingi masyarakat dalam pelaksanaan Program Kampung Sehat. Hasil diskusi menunjukkan adanya perubahan perilaku yang cukup menggembirakan. Air putih kini mulai menjadi pilihan utama dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti pertemuan warga, kegiatan PKK, maupun posyandu. Beberapa wilayah juga mulai memanfaatkan Air Jogja sebagai alternatif minuman yang lebih sehat.
Meski demikian, peserta mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam mengurangi konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan maupun minuman manis lainnya. Teh manis masih disediakan pada beberapa kegiatan masyarakat, khususnya bagi kelompok lanjut usia. Untuk mengatasi kondisi tersebut, kader memilih pendekatan bertahap dengan mengurangi kadar gula atau menyajikan gula secara terpisah sehingga masyarakat dapat menyesuaikan tingkat kemanisan sesuai kebutuhan.
Selain kebiasaan konsumsi minuman manis, peserta juga menyoroti perlunya peningkatan aktivitas fisik masyarakat. Perwakilan TP-PKK RW mengusulkan agar edukasi mengenai aktivitas fisik tidak hanya berfokus pada kegiatan bersama, tetapi juga memperkenalkan berbagai gerakan sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Aktivitas tersebut diharapkan mudah diterapkan, tidak membutuhkan biaya tambahan, serta dapat dilakukan dalam waktu singkat sehingga lebih sesuai dengan rutinitas masyarakat.
Aspek promosi kesehatan juga menjadi perhatian dalam diskusi. Para peserta menyampaikan bahwa media edukasi berupa poster yang telah dibagikan umumnya dipasang di pos ronda maupun balai RW. Namun, distribusi media tersebut dinilai belum optimal karena tidak seluruh RW memiliki balai pertemuan. Oleh karena itu, peserta mengusulkan penyediaan standing banner yang lebih fleksibel dan dapat dipindahkan ke berbagai lokasi kegiatan sehingga informasi kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit berbasis masyarakat. SDG 5 Kesetaraan Gender dengan memperkuat kapasitas TP-PKK sebagai penggerak utama pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui pengembangan lingkungan yang mendukung perilaku hidup sehat. Kolaborasi antara FK-KMK UGM, pemerintah kelurahan, puskesmas, dan organisasi masyarakat juga mencerminkan implementasi SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Kontributor: Hafizha Ulya Nafi).



