FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bekerja sama dengan Ikatan Ahli Manajemen Rumah Sakit Indonesia (IAMARSI) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Traveling Seminar mengenai sistem pelayanan kesehatan dan medical & wellness tourism di Thailand dan Malaysia. Kegiatan ini berlangsung pada 10–13 Oktober 2025 dengan rangkaian kunjungan ke beberapa rumah sakit dan resort kesehatan di Bangkok, Thailand, serta Kuala Lumpur, Malaysia.
Program ini diawali dengan sesi seminar dan diskusi yang diadakan di Bangkok pada 10 Oktober, yang dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke berbagai institusi pelayanan kesehatan. Acara dibuka melalui kegiatan dinner dan sharing session bersama Professor Dr. Siripen Supakankunti dari Center of Excellence for Health Economics, Faculty of Economics, Chulalongkorn University. Dalam sesi tersebut, Prof. Siripen memaparkan dua topik penting, yakni sistem asuransi kesehatan nasional di Thailand serta perkembangan medical tourism di negara tersebut.
Pada paparan pertama, dibahas kondisi demografi dan sistem pembiayaan kesehatan Thailand yang telah mencapai cakupan Universal Health Coverage (UHC) sebesar 71 persen atau sekitar 47 juta jiwa. Sistem ini didukung oleh pendanaan berbasis pajak dengan berbagai manfaat, mulai dari promosi kesehatan, pencegahan penyakit, hingga pelayanan rehabilitatif. Pemerintah Thailand juga menargetkan pengeluaran untuk penyakit katastropik agar tetap di bawah 2 persen. Dalam kurun lima tahun terakhir, National Health Security Office (NHSO) telah menerapkan strategi untuk memperkuat efisiensi pembiayaan, pemanfaatan data, serta peningkatan kecepatan respons terhadap kebutuhan masyarakat.
Selain itu, Prof. Siripen menjelaskan bahwa Thailand kini memasuki fase super-aged society, di mana proporsi penduduk berusia di atas 60 tahun mencapai 20 persen pada 2021 dan diprediksi meningkat menjadi 30 persen pada 2035. Kondisi ini menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas keuangan dan distribusi tenaga kesehatan di seluruh wilayah. Dukungan politik, kolaborasi antarlembaga, serta integrasi antara akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan menjadi faktor penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional.
Pada sesi selanjutnya, peserta diajak menelusuri praktik medical tourism di Thailand yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Prof. Siripen menuturkan bahwa transformasi sektor kesehatan dipengaruhi oleh perkembangan teknologi biomedis, perubahan gaya hidup, serta meningkatnya kesadaran masyarakat global terhadap layanan kesehatan berkualitas. Sejak tahun 2010, medical tourism telah menyumbang sekitar 6 persen dari pendapatan nasional Thailand, dengan puncak kunjungan mencapai 39,8 juta wisatawan internasional pada 2019. Jenis layanan yang ditawarkan mencakup perawatan kanker, bedah jantung, transplantasi organ, bedah plastik, hingga layanan wellness seperti perawatan spa dan rehabilitasi.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Kuala Lumpur, Malaysia, pada 12 Oktober untuk meninjau berbagai fasilitas kesehatan yang juga mengembangkan konsep medical and wellness tourism berbasis kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memperoleh pemahaman komprehensif mengenai praktik tata kelola rumah sakit, strategi pelayanan kesehatan, serta potensi ekonomi sektor kesehatan lintas negara.
Kegiatan traveling seminar ini tidak hanya memperluas wawasan tentang sistem pembiayaan dan pariwisata kesehatan di Asia Tenggara, tetapi juga menjadi langkah penting FK-KMK UGM dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui kolaborasi lintas negara dan pembelajaran langsung, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat kapasitas akademik dan kebijakan kesehatan Indonesia agar mampu bersaing di tingkat internasional. (Kontributor: Bestian).




